PostHeaderIcon Sangkal Putung Paling Manjur

Trisno Budoyo,Pengobatan paling manjur. dan terbukti 100% sembuh,sembuh dengan harapan apa yg diharapkan oleh pasien.

Sangat Dapat Menyembuhkan :

1.PATAH TULANG/ SANGKAL PUTUNG TANPA DI BEDAH(OPERASI)
2.ORANG KESURUPAN
3.TEMPAT/TANAH SANGAR/ANGKER
4.ORANG KEBINGUNGAN/STRES
5.ORANG GILA

Nama      : Bambang
no-telp    : 085-745-957-298
Buka       : 24 JAM  ,
Alamat    : Indonesia,Surabaya barat,jl.jelidro RT 6 / RW 1 Sambikerep .

Testimoni

Iqbal Aziz ,17 thn,(patah tulang kering) : awalnya saya mengalami patah tulang ,di bagian tuang kering waktu saya futsal, dan patah nya itu runcing,ini sangat sulit sekali sembuhnya karena bentuk patahnya runcing tidak datar, ini menyulitkan dan sangat lama sembuhnya, jika orang yg menyembuhkan tidak benar benar handal dan cerdas. pertaama saya bawa ke sangkal putung di daerah gresik, malah  diperparah oleh si penyembuhnya, selang 2 bulan tidak kunjung sembuh,saya pindah dan di bawa ke bojonegoro hingga 5 bulan belum kunjung sembuh total,lalu saya bawa ke Trisno Budoyo ,tepatnya  di jl.jelidro ,dekat dengan rumah saya, tidak sampe 1 minggu ,kaki saya sudah ada prubahan sangat pesat, dan sembuh dalam wktu 3 minggu, saya sembuh lama ,karena telat di bawa ke Trisno Budoyo,beliau berkata “coba,sampean di gowo rene awal kejadian, warasmu cepet lee,1 minggu wes waras(sembuh),iki wes kasep(telat) lee,” ,nmun setelah 1 bulan lamanya ,akhirnya  saya bisa bermain futsal lagi yeee….

 

sumber : http://el-fuad-ibrahim.blogspot.com/

PostHeaderIcon Kuliah di Melbourne


Kota Melbourne di Australia merupakan salah satu kota tujuan populer untuk pelajar internasional. Jumlah universitasnya yang tidak sedikit serta beragam aktivitas yang ditawarkan menjadi daya tarik bagi pelajar internasional yang ingin memaksimalkan kehidupan pelajarnya saat tinggal di kota ini.

Melbourne kerap dianggap sebagai saingan kota Sydney, meski sebenarnya kedua kota ini menyimpan keunikan masing-masing. Salah satu tempat utama yang perlu dikunjungi di kota Melbourne adalah pasar Queen Victoria yang sudah berdiri sejak abad 19. Mulai dari sayur-sayuran, makanan siap saji hingga busana dan aksesoris bisa ditemukan disini, tentu dengan harga yang lebih murah dari pusat perbelanjaan.

Bagi yang hobi wisata kuliner, ada deretan restoran, kafe dan bar yang bisa dicoba di kawasan Southbank. Bila ingin mencicipi makanan sambil memandangi aliran sungai Yarra, wajib datang ke Federation Square. Di malam hari bila ingin sekedar menyeruput secangkir kopi, kunjungi kafe di sepanjang jalan di Melbourne lengkap dengan pemusik jalanan dan atmosfer ala Eropa.

Dalam hal olahraga, kriket merupakan olahraga favorit warga Melbourne. Olahraga ini bisa menjadi pilihan tontonan baru bagi yang masih asing dengan olahraga ini. Selama musim panas, sejumlah pertandingan kriket dapat disaksikan langsung di Melbourne Cricket Ground. Pada musim dingin, ada pertandingan Australian football yang layak jadi tontonan seru dan menegangkan. Melbourne juga menjadi tuan rumah bagi pertandingan kelas dunia seperti Australia Open, pertandingan tenis yang diadakan di tepi sungai Yarra dan balap Grand Prix F1 di Albert Park.

Jika tertarik untuk kuliah di Melbourne untuk mengalami langsung kehidupan di atas, kamu bisa pertimbangkan beberapa universitas di negara bagian Victoria berikut ini:

University of Melbourne
RMIT University
CQ University
La Trobe University

PostHeaderIcon EDUCATION:Alternative city school proposed

ORIGINAL STORY:

The Rochester school district and the Rochester Teachers Association have proposed opening an alternate high school. They’re calling the new school “All City High School,” and are planning to open it in July.

The school would be open to all students, but planners envision students falling into four categories: those who are on track to graduate; students at risk of disengagement and who may be missing one to five credits; students at high risk of disengagement or dropping out, and who may be missing up to 10 credits; and students who require emergency intervention.

All City would open in two locations: John Marshall and Jefferson. One school would be open to 500 students who are on track to graduate in four years. A second location would have 1,200 students who need support.

“Every student will have a plan to graduate upon entering through the doors,” says Sandy Jordan, a principal and special assistant to Interim Superintendent Bolgen Vargas.

The new school would be different than the now closed Josh Lofton High School, which was once envisioned as an alternative environment.

While students were sent to Josh Lofton, Jordan says, they have the option of enrolling in All City.

The new school will rely on support from the business community and area colleges for assistance with vocational instruction and college readiness.

Opening the new school will require the school board’s approval. The board will meet at 6:30 p.m. on Thursday, February 16, to discuss and possibly vote on the plan. The meeting is at 131 West Broad Street.

Some of the characteristics proposed for All City High School are:

  • Classrooms that do not exceed 23 students;
  • Every employee in the school would agree to support a “Family of Five” program, which would require them to adopt five students for mentoring academically and socially;
  • Each student would be a member of a Family of Five;
  • Teachers would have regular weekly office hours to meet with students and family;
  • Teachers would contact students’ parents or caretakers weekly with progress reports;
  • All City would have extended hours: the school will be open year round, 12 hours a day from Monday through Saturday;
  • Each student would be assigned a counselor or social worker, and the caseload will not exceed 100 students per counselor.

sumber: http://www.rochestercitynewspaper.com

PostHeaderIcon PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR PENGELASAN PADA SISWA YANG BERPRESTASI TINGGI DAN RENDAH DI SMK SWASTA 1 TRISAKTI LAGUBOTI – KABUPATEN TOBA SAMOSIR

ABSTARAK

Penelitian ini bertujuan untuk
(1) mengetahui pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan,
(2) mengetahui pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan,
(3) mengetahui interaksi antara penggunaan media program power point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan.

Jenis penelitian ini quasi eksperimen. Subjek penelitian siswa kelas 1 SMK Swasta 1 Trisakti Laguboti – Kabupaten Toba Samosir yang terdiri dari 2 kelas berjumlah 64 orang yang dibagi menjadi dua kelompok berprestasi tinggi dan berprestasi rendah.

Hasil penelitian menunjukkan:
(1) Ada pengaruh yang sangat signifikan dengan penggunaan media Program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan,
(2) Ada pengaruh yang sangat signifikan penggunaan media Program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan,
(3) Terdapat interaksi yang signifikan antara pengajaran yang menggunakan media program Power Point dan metode konvensional terhadap perolehan belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan.

Kata-kata kunci : Media Pembelajaran, Prestasi, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalam proses pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan akan menjadi pilihan tepat bagi para guru.

Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan yaitu sistem pembelajaran konvensional (faculty teaching), kental dengan suasana instruksional dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Lebih dari itu kewajiban pendidikan dituntut untuk juga memasukkan nilai-nilai moral, budi pekerti luhur, kreatifitas, kemandirian dan kepemimpinan, yang sangat sulit dilakukan dalam sistem pembelajaran yang konvensional. Sistem pembelajaran konvensional kurang fleksibel dalam mengakomodasi perkembangan materi kompetensi karena guru harus intensif menyesuaikan materi

pelajaran dengan perkembangan teknologi terbaru. Adalah Kurang bijaksana jika perkembangan teknologi jauh lebih cepat dibanding dengan kemampuan guru dalam menyesuaikan materi kompetensi dengan perkembangan tersebut, oleh karenanya dapat dipastikan lulusan akan kurang memiliki penguasaan pengetahuan/teknologi yang terbaru.

Pada kenyataannya bahwa saat ini Indonesia memasuki era informasi yaitu suatu era yang ditandai dengan makin banyaknya medium informasi, tersebarnya informasi yang makin meluas dan seketika, serta informasi dalam berbagai bentuk yang bervariasi tersaji dalam waktu yang cepat. Penyajian pesan pada era informasi ini akan selalu menggunakan media, baik elektronik maupun non elektronik. Terkait dengan kehadiran media ini, Dimyati (1996) menjelaskan bahwa suatu media yang terorganisasi secara rapi mempengaruhi

secara sistematis lembaga-lembaga pendidikan seperti lembaga keluarga, agama, sekolah, dan pramuka. Dari uraian tesebut menunjukkan bahwa kehadiran media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan kita, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.

Dengan demikian hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya media pembelajaran yang memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajari materi pembelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. Selain itu juga gaya belajar atau learning style merupakan suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil bagi pembelajar yang merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar.

Selanjutnya hasil belajar digambarkan sebagai tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur berdasarkan pada jumlah skor

jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. Secara umum mutu pendidikan kejuruan dikatakan baik dan berhasil jika kompetensi peserta didik yang diperoleh melalui proses pendidikan berguna bagi perkembangan diri mereka untuk hari depannya, yaitu ketika mereka memasuki dunia kerja. Hasil observasi empirik di lapangan menunjukkan bahwa banyak alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak bisa diserap di lapangan kerja karena kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengan tuntutan dunia kerja (Depdiknas, 2004). Oleh karena itu lembaga pendidikan kejuruan diwajibkan untuk melakukan upaya introspeksi diri demi masa depan siswa, bangsa dan negara.

Ada kemungkinan rendahnya nilai kompetensi siswa disebabkan oleh strategi penyampaian pelajaran kurang tepat. Dalam hal ini guru mungkin kurang atau tidak memanfaatkan sumber belajar secara optimal. Diantaranya guru dalam menyampaikan pengajaran sering mengabaikan penggunaan media, padahal media itu berfungsi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan pada gilirannya akan meningkatkan mutu pendidikan siswa.

Peranan Media dalam proses belajar mengajar menurut Gerlac dan Ely (1971:285) ditegaskan bahwa ada tiga keistemewaan yang dimiliki media pengajaran yaitu :

(1) Media memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan dan menampilkan kembali suatu objek atau kejadian,
(2) Media memiliki kemampuan untuk menampilkan kembali objek atau kejadian dengan berbagai macam cara disesuaikan dengan keperluan, dan
(3) Media mempunyai kemampuan utuk menampilkan sesuatu objek atau kejadian yang mengandung makna.

Begitu juga, Ibrahim (1982:12) mengemukakan fungsi atau peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain :
(1) Dapat menghindari terjadinya verbalisme,
(2) Membangkitkan minat atau motivasi,
(3) Menarik perhatian,
(4) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran,
(5) Mengaktifkan siswa dalam belajar dan
(6) Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.

Perlu disadari bahwa mutu pendidikan yang tinggi baru dapat dicapai jika proses pembelajaran yang diselenggarakan di kelas efektif dan fungsional bagi pencapaian kompetensi

yang dimaksud. Oleh sebab itu usaha meningkatkan mutu pendidikan kejuruan tidak terlepas dari usaha memperbaiki proses pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan aktivitas yang terdiri atas komponen- komponen yang bersifat sistemik. Artinya komponen-komponen dalam proses pembelajaran itu saling berkaitan secara fungsional dan secara bersama-sama menentukan optimalisasi proses dan hasil pembelajaran. Komponen-komponen pembelajaran tersebut menurut Mudhoffir (1999) dijabarkan atas pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Sedangkan menurut Winkel (1999), komponen pembelajaran terdiri dari tujuan pembelajaran, kondisi awal, prosedur didaktik, pengelompokan siswa, materi, media, dan penilaian.

Selanjutnya Winkel (1999), menegaskan bahwa tugas dan peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai :
(1) organisator,
(2) fasilitator,
(3) dinamisator, dan
(4) evaluator.

Secara operasional, tugas dan peran guru dalam proses pembelajaran meliputi seluruh penanganan komponen pembelajaran yang meliputi proses pembuatan rencana pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan, dan penilaian, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan membuahkan hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Guru dituntut untuk memiliki kompetensi terhadap materi yang diajarkan dan kompetensi dalam hal memberdayakan semua komponen pembelajaran, sehingga seluruh elemen pembelajaran dapat bersinergi dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dimaksud.

Dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran agar efektif dan fungsional, maka fungsi media pembelajaran sangat penting untuk dimanfaatkan. Pemakaian media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi daya cerna siswa terhadap informasi atau materi pembelajaran yang diberikan.

Pemerintah telah lama menyadari bahwa peran media dalam proses pembelajaran amat penting. Oleh karena itu telah banyak dana diinvestasikan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan melalui pengadaan atau pendistribusian berbagai macam media pembelajaran ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Efektifitas penggunaan media pembelajaran sangat tergantung pada derajat kesesuaiannya dengan materi yang akan diajarkan. Disamping itu tergantung juga pada keahlian guru dalam menggunakan media tersebut. Dalam hal ini Dick & Carey (dalam Lamudji, 2005) menyatakan bahwa salah satu keputusan yang paling penting dalam merancang pembelajaran ialah dengan menggunakan media yang sesuai dalam rangka penyampaian pesan-pesan pembelajaran.

Menurut Miarso (1984) media yang dirancang dengan baik dalam batas tertentu dapat merangsang timbulnya semacam dialog internal dalam diri siswa yang belajar. Dengan perkataan lain terjadi komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung antara siswa dengan sumber pesan atau guru. Media berhasil membawakan pesan belajar bila kemudian terjadi perubahan kualitas dalam diri siswa.

Pemanfaatan media pembelajaran terkait dengan pembelajaran Kompetensi melaksanakan prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas, telah dilaksanakan di sekolah-sekolah yang telah memiliki beberapa media pembelajaran, baik yang diperoleh dari pemerintah (melalui proyek), dibeli sendiri oleh sekolah, maupun yang dibuat sendiri oleh guru. Demikian pula yang terjadi pada SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti. Sebagai sekolah yang telah berstandar nasional, SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti telah menerima bantuan berupa peralatan pembelajaran dari pemerintah seperti Laptop dan Liquid Crystal Display (LCD) yang sampai saat ini belum dimanfaatkan sebagai media Pembelajaran. Sehingga permasalahan yang timbul adalah mediamedia pembelajaran yang tersedia dirasa kurang informatif untuk menjelaskan Pelaksanaan Prosedur Pengelasan,pematrian, pemotongan dengan panas.

Perlu kita diketahui bahwa teknologi informasi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Teknologi informasi harus disadari telah mampu membuat berbagai cara untuk mempermudah penyampaian informasi, seperti misalnya teknologi program Power Point. Merupakan suatu hal yang menarik untuk melakukan suatu percobaan dengan penggunaan media belajar program Power Point dalam pembelajaran Prosedur pengelasan.

Microsoft Power Point merupakan salah satu aplikasi milik Microsoft, disamping Microsoft Word dan Microsoft Exel yang telah di kenal banyak orang. Ketiga aplikasi ini lazim disebut Microsoft Office. Pada dasarnya, aplikasi Microsoft Power Point berfungsi untuk membantu user dalam menyajikan persentasi.

Aplikasi Power Point menyediakan fasilitas slide untuk menampung pokok-pokok pembicaraan yang akan disampaikan pada peserta didik. Dengan fasilitas animasi, suatu slide dapat dimodifikasi dengan menarik. Begitu juga dengan adanya fasilitas : front picture, sound dan effect dapat dipakai untuk membuat suatu slide yang bagus. Bila produk slide ini disajikan, maka para pendengar dapat ditarik perhatiannya untuk menerima apa yang kita sampaikan kepada peserta didik.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk
(1) Mengetahui pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan
(2) Mengetahui pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan
(3) Mengetahui interaksi antara penggunaan media program power point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini tergolong dalam jenis eksperimen quasi yang bertujuan untuk menuji pengaruh penggunaan Power Point pada proses pembelajaran pada materi sub kompetensi pelaksanaan prosedur pengelasan. Penelitian dilakukan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti yang memiliki dua kelas paralel untuk program keahlian Teknik Mekanik Otomotif.

Variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian ini meliputi 1) Variabel bebas proses belajar mengajar dengan menggunakan media Pawer Point, dan 2)Variabel moderator yaitu prestasi tinggi dan prestasi rendah, serta 3)Variabel terikat adalah hasil belajar.

Berbagai macam variabel mempunyai ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya, tetapi kesemuanya itu memiliki keterkaitan dengan proses pembelajaran. Penelitian ini mempunyai kelompok perlakuan sebagai variabel bebas yaitu pemberian pengajaran dengan menggunakan media program Power Point dan pengajaran Konvensional. Variabel moderator adalah siswa yang berprestasi dikelompokkan menjadi dua, yaitu berprestasi rendah dan berprestasi tinggi.

Dalam penelitian eksperimental sekurang-kurangnya ada sebuah variabel yang dimanipulasi untuk diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat. Misalnya metode atau perlakuan tertentu yang terjadi dalam proses pembelajaran. Perlakuan tertentu yang diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat disebut sebagai variabel bebas.

Dalam penelitian ini yang dijadikan variabel bebas adalah pembelajaran yang menggunakan media program PowerPoint dalam suatu kelompok siswa dan kelompok siswa lainnya tidak diberi perlakuan dengan media Power Point, cukup hanya menggunakan media konvensional saja. Media Power Point yang dimaksud merupakan suatu alat bantu untuk menyampaikan materi pelajaran sebagai variabel bebas. Penggunakan media ini dimanipulasi dan diukur pengaruhnya terhadap perolehan atau hasil belajar. Variabel moderator yaitu prestasi diukur dan diklasifikasikan untuk mengetahui adanya interaksi antara variabel bebas dengan variabel moderator terhadap variabel terikat (perolehan belajar). Variabel lain yang diprediksikan dapat memberi pengaruh terhadap perolehan belajar seperti waktu, tempat, guru, keadaan kelas, dikontrol untuk menetralisasi pengaruhnya terhadap variabel terikat. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam sub kompetensi Pelaksanaan prosedur pengelasan mengacu kepada Kurikulum 2004.

Populasi penelitian menggunakan seluruh siswa kelas satu Tahun Pelajaran 2006/2007 program keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti. Adapun jumlah siswa sebanyak 64 siswa yang terbagi dalam dua kelas paralel dengan masing-masing beranggotakan 32 siswa.

Sampel yang digunakan untuk penelitian ini diambil dari dua kelas sebagaimana disebut diatas : Langkah pertama, membagi kelas melalui penjaringan nilai Ujian Nasional (UN) menjadi dua kelas yaitu berprestasi tinggi dan berprestasi rendah. Langkah kedua, dari tiap kelas tersebut yang dijadikan sampel sebanyak 16 orang untuk perlakuan pembelajaran dengan menggunakan Power Point dan selebihnya dilakukan pembelajaran dengan cara konvensional.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa adalah nilai Ujian Nasional yaitu data saat pendaftaran yang terekam di Kantor Tata Usaha SMK Swasta 1 Trisakti Laguboti. Sedangkan instrumen untuk mengukur hasil belajar menggunakan soal tes. Tolok ukur dalam pengujian butir-butir tes belajar merujuk kepada Tujuan Khusus Pembelajaran yaitu merupakan jabaran dari Tujuan Umum Pembelajaran bidang diklat yang dieksperimenkan. Rumusan tujuan pembelajaran dalam penelitian ini berpedoman pada kurikulum 2004. Hal ini dilakukan agar tidak menyimpang dari kurikulum yang dipakai oleh guru.

Jumlah tes disusun sebanyak 25 soal, selanjutnya dikonsultasikan kepada ahli bidang diklat untuk mengetahui butir-butir tersebut sudah layak untuk mengukur hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Setelah konsultasi dilakukan kemudian revisi (perbaikan) dilakukan bagi butir yang belum layak.

Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Cara melaksanakan uji validitas adalah yang pertama dilakukan oleh para ahli, dalam hal ini guru bidang diklat dan PPPGT Medan sebagai pembina SMK berstandar Nasional. Setelah disetujui oleh para ahli baru dilakukan uji coba instrumen. Uji instrumen dilakukan di kelas II Mekanik Otomotif 1 SMK Swasta 1 Trisakti Laguboti karena mata diklat ini telah diajarkan sebelumnya pada kelas tersebut.

Item instrumen dianggap valid bila nilai koefisien korelasinya lebih besar dari 0,2327. Sedangkan bila nilai koefisien korelasinya kurang dari 0,2327 maka item itu tidak valid (gugur), artinya tidak layak sebagai item instrumen. Analisis validitas tiap item dibantu dengan software Excell dan SPSS 12 Validitas butir soal ditentukan dari nilai r hasil tiap item pada kolom yang merupakan korelasi dari besarnya nilai setiap item dengan skor totalnya. Jika r hitung bernilai positip dan lebih besar dari r tabel (rht > rt) maka butir tersebut dinyatakan valid. Apabila r hitung bernilai negatif dan lebih kecil dari r tabel (rht < rt) maka butir tersebut dinyatakan tidak valid dan tidak bisa digunakan.

Instrumen penelitian ini diujicobakan pada 32 responden. Batasan valid untuk tiap butir soal dengan responden sebanyak 32 dan kesalahan 5 % adalah 0,2327 (rt = 0,2327). Menentukan butir soal atau pernyataan valid atau tidak dengan melihat r hitung pada kolom Corrected Item-Total Correlation dibandingkan dengan nilai r tabel (rt = 0,2327). Untuk menguji hipotesis penelitian ini seperti yang telah dirumuskan digunakan analisis statistik inferensial. Jenis analisis yang digunakan adalah uji perbedaan dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dua jalur.

HASIL

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir, penelitian ini menggunakan analisis ragam ANAVA. Analisis ini dilakukan dengan ketentuan :

. Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak ada pengaruh atau tidak ada perbedaan yang signifikan.

. Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh atau terdapat perbedaan yang signifikan.

Atau dengan cara membandigkan antara F hitung dengan F tabel dengan ketentuan :

. Jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima yang berarti tidak ada pengaruh atau tidak ada perbedaan yang signifikan.

. Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh atau terdapat perbedaan yang signifikan.

Pengujian hipotesis 1 :

Dalam pengujian hipotesis, setiap hipotesis alternatif (Ha) dirumuskan dalam hipotesia (Ho).

Hipotesis nihil pertama (Ho1): tidak ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan.

Berdasarkan dari hasil perhitungan maka dapat diketahui bahwa F hitung = 8,94 lebih besar dari pada F tabel dengan taraf signifikansi 0,05 = 4,00 sedangkan untuk F = 8,94 juga lebih besar dari pada F dengan taraf signifikansi 0,01 = 7,08.

Dengan demikian Hipotesis Nol (Ho1) yang berbunyi tidak ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan ditolak pada taraf signifikansi 0,05 dan juga ditolak pada taraf signifikansi 0,01.

Pengujian hipotesis 2 :

Hipoteisis nihil kedua (Ho2): tidak ada pengaruh penggunaan media Program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan

Berdasarkan dari perhitungan maka dapat diketahui bahwa F hitung = 15,56 lebih besar dari pada F tabel dengan taraf signifikansi 0,05 = 4,00 sedangkan untuk F hitung = 15,56 juga lebih besar dari pada F tabel dengan taraf signifikansi 0,01 = 7,08

Dengan demikian Hipotesis Nol (Ho2) yang berbunyi tidak ada pengaruh penggunaan media Program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan Prosedur Pengelasan ditolak pada taraf signifikansi 0,05 dan dan juga ditolak pada taraf signifikansi 0,01.

Pengujian hipotesis 3 :

Hipotesis nihil ketiga (Ho3): tidak ada Interaksi antara penggunaan media program Power Point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan.

Berdasarkan dari perhitungan maka dapat diketahui bahwa F hitung = 6,18 lebih besar dari pada F tabel dengan taraf signifikansi 0,05 = 4,00 sedangkan untuk F hitung = 6,18 adalah lebih kecil dari pada F tabel dengan taraf signifikansi 0,01 = 7,08.

Dengan demikian Hipotesis Nol (Ho3) yang berbunyi tidak ada Interaksi antara penggunaan media program Power Point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan ditolak pada taraf signifikansi 0,05 dan diterima pada taraf signifikansi 0,01.

PEMBAHASAN

Ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir

Berdasarkan hasil analisis data yang sudah dilakukan bahwa pembelajaran dengan mengunakan media program Power Point pada sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasa di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir mempunyai pengaruh yang signifikan. Hal ini dapat diketahui dari nilai Fhitung yang sebesar 8,94 yang lebih besar dari pada Ftabel pada dk

= 60 : 1 dengan tingkat kesalahan 5% yang sebesar 4,00 dan 1 % sebesar 7,08. Dengan demikian berarti bahwa ada perbedaan atau pengaruh yang sangat signifikan penggunaan media program Power Point dengan media konvensional untuk siswa berprestasi tinggi pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol yang mengemukakan tidak ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir ditolak. Sedangkan hipotesis alternatif yang berbunyi ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir diterima, karena terbukti bahwa penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi berpengaruh sangat signifikan terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Hal ini dapat diketahui pula dari nilai rata-rata kompetensi siswa secara konvensional dengan rata-rata nilai kompetensi siswa kelas 1 otomotif yang berprestasi tinggi dengan media belajar konvensional adalah 7,40 sedangkan dengan menggunakan media belajar power point memiliki rata-rata sebesar 8,50.

Ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data penggunaan media program Power Point untuk siswa berprestasi rendah pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan diketahui bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara penggunaan media program Power Point dengan media konvensional untuk siswa berprestasi rendah pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir. Hal ini dapat diketahui dari nilai Fhitung yang sebesar 15,56 yang lebih besar dari pada Ftabel pada dk = 60 : 1 dengan tingkat kesalahan 5% yang sebesar 4,00 dan 1% sebesar 7,08 yang berarti bahwa ada perbedaan atau pengaruh yang sangat signifikan penggunaan media program Power Point dengan media konvensional untuk siswa berprestasi rendah pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol yang mengemukakan tidak ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan ditolak. Sedangkan hipotesis alternatif yang berbunyi ada pengaruh penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi rendah terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir diterima, karena terbukti bahwa penggunaan media program Power Point pada siswa berprestasi tinggi berpengaruh sangat signifikan terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Hal ini dapat diketahui dari nilai rata-rata nilai kompetensi siswa secara konvensional dengan rata-rata nilai kompetensi siswa kelas 1 otomotif yang berprestasi rendah dengan media belajar konvensional adalah 7,15 sedangkan dengan menggunakan media belajar power point memiliki rata-rata sebesar 8,25.

Hipotesis pertama dan hipotesis kedua tersebut di atas sesuai dengan pendapat Sulaeman (1988) yang mengatakan bahwa untuk mencapai sasaran akhir, teknologi-teknologi di bidang pembelajaran perlu dikembangkan sebagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan karakteristiknya. Dalam upaya itu, teknologi belajar dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desain lainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, mengembangkan penggunaannya dan akhirnya menggunakannya di lapangan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi.

Semua ini dilakukan oleh para guru teknologi dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian proses belajar siswa akan amat mudah dengan adanya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya.

Lebih lanjut Sulaeman (1988) mengatakan bahwa penyampaian materi pelajaran yang lebih banyak ditempuh melalui ceramah dan tanya jawab dua arah (guru-siswa) dan berlangsung terus-menerus akan dapat membosankan dan melemahkan aktivitas siswa. Siswa memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada guru dalam melakukan kegiatan tulis. Siswa sangat mudah mengabaikan guru-guru yang cara mengajarnya berulang-ulang dan karenanya tidak menarik perhatian mereka. Lebih lanjut dikatakan bahwa berulang-ulang akan menyebabkan penurunan efisiensi belajar.

Berdasarkan beberapa teori pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa sukses tidaknya transfer knowledge atau transfer ilmu pengetahuan antara guru dengan siswa di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir sangat tergantung dengan media pembelajaran yang digunakan dan cara penyampaian guru. Dalam hal ini sangat diharapkan tidak monoton, sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan materi pelajaran yang diberikan atau dengan guru yang bersangkutan. Dalam hal ini dengan adanya teknologi untuk penyampaian bahan ajar yakni microsoft power point yang digunakan untuk pembelajaran dalam hal pelaksanaan prosedur pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir, diharapkan para siswa merasa senang dan tertantang untuk mempelajari lebih jauh penggunaan teknologi tersebut. Dengan penggunaan power point maka proses pembelajaran akan berjalan lebih menarik dan tidak menjenuhkan, karena dalam power point seorang tutor dapat menampilkan hal-hal yang menarik yang diharapkan dapat mengobati kejenuhan siswa dalam pelajaran, diharapkan siswa tidak jenuh mengikuti pembelajaran sehingga akan menghasilkan nilai kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan secara konvensional.

Hal ini dapat diketahui dari nilai rata-rata nilai kompetensi siswa secara konvensional dengan nilai rata-rata 7,28 sedangkan dengan menggunakan media belajar power point memiliki rata-rata sebesar 8,37. Artinya bahwa pembelajaran dengan menggunakan media program power point hasil belajarnya lebih tinggi.

Ada interaksi antara penggunaan media program power point dengan prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa F hitung (Prestasi * Kompetensi) adalah sebesar 6,18 yang lebih besar dari Ftabel pada dk = 60 : 1 dengan tingkat kesalahan 5% yang sebesar 4,00 dan lebih kecil dari Ftabel pada dk = 60 : 1 dengan tingkat kesalahan 1% yang sebesar 7,08. Hal ini berarti bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media power point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap nilai hasil belajar sub kompetensi siswa, yang berarti bahwa Ho di tolak atau terbukti ada interaksi antara penggunaan media power point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap nilai hasil belajar sub kompetensi siswa.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa ada Interaksi antara penggunaan media program Power Point dan tinggi rendahnya prestasi siswa terhadap hasil belajar sub kompetensi terbukti benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa bisa saja siswa dengan prestasi tinggi memiliki nilai kompetensi yang sama dengan siswa yang berprestasi rendah, atau sebaliknya siswa dengan prestasi rendah kemungkinan bisa memiliki nilai kompetensi yang sama atau paling tidak mendekati nilai kompetensi siswa dengan prestasi tinggi.

Adanya interaksi antara prestasi siswa dengan nilai kompetensi siswa pada pembelajaran sub kompetensi Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir, menunjukkan bahwa siswa dengan prestasi rendah maupun siswa dengan prestasi tinggi kemungkinan akan memiliki nilai kompetensi pelaksanaan prosedur pengelasan yang sama. Sehingga dapat diartikan bahwa baik buruknya nilai kompetensi siswa dalam hal pelaksanaan prosedur pengelasan tidak banyak dipengaruhi oleh prestasi siswa pada pembelajaran pelaksanaan prosedur pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

Hasil analisis hipotesis ketiga sesuai dengan pendapat Sahertian (1983) yang mengemukakan bahwa analisis psikologis menunjukkan bahwa belajar adalah proses yang kompleks dan unik. Artinya seseorang yang belajar melibatkan segala aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari seluruh aspek kepribadian ini akan tampak perilaku belajar seseorang. Perilaku belajar yang nampak adalah unik. Artinya perilaku itu hanya terjadi pada seseorang dan tidak pada orang lain. Setiap orang memunculkan perilaku belajar yang berbeda. Keunikan perilaku belajar seperti gaya belajar, gaya kognitif, bakat, minat, motivasi, tingkat kecerdasan, kematangan intelektual dan lainnya yang dapat diacukan pada karakteristik individu siswa. Perilaku belajar siswa yang sangat kompleks dan unik ini menuntut layanan dan perlakuan pembelajaran yang kompleks dan unik pula untuk setiap siswa. Komponen pembelajaran yang bertanggungjawab untuk melayani masalah ini adalah strategi penyampaian kepada pembelajaran, lebih khusus lagi pada media pembelajaran. Media pembelajaran sebaiknya dipilih sesuai dengan karakteristik individu siswa sedapat mungkin harus memberi layanan pada setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya. Misalnya siswa yang memiliki gaya auditif hendaknya mendapat rangsangan belajar auditif.

Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi kemungkinan akan memiliki hasil yang sama dalam Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir, karena adanya rangsangan untuk menghasilkan pengelasan yang sebaik mungkin yang tidak banyak dipengaruhi oleh kemampuan atau inteligensi siswa, namun lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan atau ketrerampilan siswa dalam pengelasan.

Sahertian (1983) menyatakan bahwa evaluasi dalam program belajar mengajar di sekolah merupakan suatu usaha untuk mengukur dan memberi penilaian terhadap beberapa aspek tingkah laku individu maupun sekelompok siswa seperti pengetahuan, keterampilan dan sikap; penilaian dilakukan oleh guru. Sementara dalam hal pengelasan, yang paling utama adalah keterampilan siswa dalam hal pengelasan, sehingga mungkin saja siswa dengan prestasi yang rendah akan lebih terampil dalam pengelasan dibandingkan dengan siswa yang berprestasi tinggi, atau sebaliknya siswa yang berprestasi tinggi akan memiliki keterampilan yang lebih tinggi pula dibidang pengelasan. Sehingga segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam Pelaksanaan Prosedur Pengelasan di SMK Swasta-1 Trisakti Laguboti Toba Samosir.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis dari sebanyak 64 sampel siswa kelas I otomotif SMK Swasta 1 Trisakti Laguboti – Kabupaten Toba Samosir (32 siswa berprestasi tinggi dan 32 siswa berprestasi rendah) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
(1) Media program Power Point berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang berprestasi tinggi pada prosedur pengelasan.
(2) Media program Power Point berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang berprestasi rendah pada prosedur pengelasan
(3) Terdapat interaksi antara media belajar dan prestasi belajar siswa pada sub kompetensi prosedur pengelasan, baik dengan media program Power Point maupun tidak menggunakan media program power point (Konvensional), terhadap siswa dengan prestasi tinggi maupun terhadap siswa dengan prestasi rendah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memiliki prestasi tinggi maupun siswa yang memiliki prestasi rendah akan lebih terkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran prosedur pelaksanaan pengelasan menggunakan media program power point dibanding dengan cara konvensional, sehingga program ini sangat cocok untuk diterapkan di SMK Swasa-1 Trisakti Laguboti – Toba Samosir.

SARAN

Agar pembelajaran dapat dilakukan secara cermat dan menghasilkan nilai kompensi lebih baik, maka penggunakan program Power Point dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pada sub kompetensi pelaksanaan prosedur pengelasan. Akan tetapi, karena materi pelajaran selalu mengalami perkembangan, diharapkan guru melakukan pemutakhiran isi pada setiap sajian dengan tetap mempertimbangkan cuplikan-cuplikan gambar yang akan disajian.

Saran-saran untuk Pemanfaatan hasil penelitian yaitu
(1) Sebaiknya penggunaan media belajar dengan program Power Point lebih ditekankan/ditingkatkan, dan sebaiknya jangan hanya digunakan untuk pembelajaran prosedur pengelasan saja akan tetapi bisa juga diterapkan pada pembejalaran yang lain
(2) Untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu agar siswa memiliki pengetahuan yang lebih baik perlu menggunakan media yang sesuai
(3) Sebaiknya diusahakan agar kompetensi yang diajarkan menarik perhatian siswa, baik gambar-gambar yang relevan dengan alat-alat yang akan digunakan maupun cuplikan cara kerja alat.

Untuk peneitian lebih lanjut dikemukakan disarankan
(1) untuk medapatkan gambaran yang utuh tentang pengaruh penggunaan media Power Point terhadap perolehan hasil belajar, maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan dengan subjek yang lebih besar
(2) supaya dikembangkan metode pembelajaran baru dengan media program Power Point untuk pelajaran-pelajaran yang lainnya. Juga disarankan untuk menggunakan media program yang lain yang lebih interaktif
(3) pada penelitian lanjutan disarankan untuk menambah variabel lain misalnya seperti sikap, kebiasaan belajar oleh karena hal ini juga erat hubungannya dengan akal pikir yang mempengaruhi prestasi belajar.

DAFTAR RUJUKAN

Dimyati, M. 1996. Media Massa sebagai Lembaga Pendidikan Kelima Dalam Masyarakat Indonesia : Dilema Pendidikan Anak Bangsa. Makalah. Malang : IKIP Malang

Departemen Pendidikan Nasional. 2004, Kurikulum SMK Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif. Jakarta : Depdiknas

Ely, G. 1971. Teaching and Media Systematic Approach. New Jersey Prentice Hall, Inc.

Ibrahim, 1982. Media Instruksional. Malang : FIP IKIP Malang

Lamudji, 2005. Pengaruh Penggunaan OHP terhadap hasil belajar Matematikan pada siswa Sekolah Menengah Pertama yang bermotivasi Tinggi dan Rendah. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Miarso, Y. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan, pengertian dan penerapannya di Indonesia. Jakarta : Rajawali

Mudhoffir, & Tjun Surjaman. 1999. Teknologi Instruksional, sebagai landasan Perencanaan dan penyusunan program Pengajaran (Cetakan ke-7). Bandung : Remaja Rosdakarya

Sahertian, P.A. 1983. Teknik-teknik Manajemen Modern Dalam Bidang Pendidikan. Malang : Institut Keguruan Pendidikan Malang

Sulaeman, D. 1988. Teknologi/Metodologi Pengajaran, Jakarta : Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Winkel, W.S. 1999. Psikologi Pengajaran (Cetakan kelima). Jakarta : Grasindo

 

 

sumber : artikel.us

PostHeaderIcon Peranan Agen Perubahan dalam Institusi Pendidikan Tinggi

Peranan Agen Perubahan dalam Institusi Pendidikan Tinggi
The Role of Change Agent on Higher Education Institution

Artikel ini dimuat dalam PROCEEDING SEMINAR NASIONAL PASCASARJANA III 2003 ITS SURABAYA dan dipresentasikan pada tanggal 19 Juni 2003 di Surabaya.

ABSTRAK
Penelitian ini mengidentifikasi peranan Badan Pelaksana Harian atau BPH Yayasan (agen perubahan eksternal)sebagai ‘facilitator’ dan ‘advisor’ perubahan dan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas (agen perubahan internal) sebagai ‘leader’ dan ‘negotiator’ perubahan dalam sistem penyelenggaraan PTS. Penelitian menunjukkan pemahaman BPH Yayasan terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan lebih baik daripada Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas, gaya pengaruh transformasional lebih disukai Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas daripada BPH Yayasan, dan intoleransi BPH Yayasan terhadap situasi berarti ganda lebih tinggi daripada Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas. Penelitian ini menemukan kedudukan agen perubahan mempunyai dampak perbedaan pada gaya pengaruh transformasional (TTRANFM) dan intoleransi terhadap situasi berarti ganda (TAMBIG), namun tidak mempunyai dampak perbeda an pada pemahaman terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan (TMCQ). Lebih lanjut penelitian membuktikan tidak satu pun variabel karakteristik individual yang secara signifikan mempengaruhi pemahaman terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan. Secara umum penelitian menunjukan BPH Yayasan bukanlah orang-orang yang efektif melakukan perubahan organisasi.

Kata Kunci : pengelolaan perubahan, gaya pengaruh transformasional, intoleransi terhadap situasi berarti ganda

ABSTRACT
This research identify the role of Daily Executive Body of Foundation (external change agent) as ‘facilitator’ and ‘advisor’ of change and Rector of University-Institute/Head of College/Dean (internal change agent) as ‘leader’ and ‘negotiator’ of change on private higher education institution. This research shows understanding of Daily Executive Body of Foundation upon managing change aspects is better than Rector of University-Institute/Head of College/Dean, transformational influence style is more liked by the Rector of University-Institute/Head College/Dean than Daily Executive Body of Foundation, and intolerance Daily Executive Body of Foundation upon ambiguity is higher than Rector of University-Institute/Head of College/Dean.This research found that the position of change agent has influence in giving differ upon transformational influence style (TTRANFM) and intolerance upon ambiguity (TAMBIG), but there is no influence in giving differ upon understanding managing chan ge aspect (TMCQ). Further more, the research proves no variable of individual characteristics influent significantly the understanding upon managing change aspects. In general, this research shows that Daily Executive Body of Foundation is not the effective people to do the organization change.

Keywords: managing change, transformational influence style, and intolerance upon ambiguity

1. PENDAHULUAN
Perkembangan dunia yang pesat dewasa ini haruslah diimbangi dengan kemajuan dunia pendidikan tinggi yang didisain sedemikian rupa agar tidak tertinggal dengan perkembangan dunia pada umumnya. Pendidikan tinggi harus mampu menciptakan calon-calon tenaga siap latih untuk memasuki dunia kerja melalui peran pelaku-pelaku institusi pendidikan tinggi yang mampu menjadi agen perubahan yang dapat mendorong perubahan (drive to change), bukannya dipimpin oleh perubahan (lead by change), bahkan menolak perubahan (resist to change).

Rekonstruksi komitmen terhadap pendidikan tinggi dengan seluruh sistem pengelolaannya harus didahului oleh kesediaan dari segenap pelakunya untuk melakukan pembaharuan terhadap pola pikir mereka. Untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga penggerak atau “change agent” yang dapat berasal dari para pakar pendidikan maupun dari para pengamat lainnya, yang mampu menarik para pelaku lainnya agar mampu berfungsi aktif sebagai proponent bagi langkah-langkah perubahan ini, sekaligus tajam dalam mengidentifikasi pihak-pihak oponent yang harus diwaspadai (Susanto, 1998).

Penelitian tentang manajemen perubahan merupakan bidang yang relatif baru dan jarang dibahas orang, sehingga sering terjadi perdebatan tentang isu dan konsep yang muncul. Penelitian mulai marak tahun 1990-an dengan munculnya instrumen Managing Change Questionnaire (MCQ) dari W. Warner Burke Associates untuk meneliti pengetahuan dan pemahaman isu perubahan organisasional antara manajer dan eksekutif.

Dalam perkembangannya telah dilakukan penelitian “OD Practitioner as Facilitators of Change : An Analysis of Survey Results” oleh Church, Waclawski, dan Burke pada tahun 1996 yang meneliti peran praktisi OD sebagai fasilitator perubahan dalam organisasi dibandingkan dengan database penelitian sebelumnya yaitu manajer dan eksekutif. Penelitian tersebut menunjukkan praktisi OD, sebagai “orang luar yang mempunyai pengetahuan orang-dalam” seringkali berada pada posisi yang sangat “lemah” di dalam sistem klien mereka, sedang di lain pihak konsultan OD dan HRD internal seringkali mengalami tekanan yang kontradiktif antara “berbuat hal yang benar” dan “menyelamatkan diri dari permainan politik di dalam organisasi”. (Church, et.al.,1996).

Secara spesifik penelitian ini melihat peranan BPH Yayasan dan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas dalam kedudukannya masing-masing sebagai agen perubahan eksternal dan internal pada institusi pendidikan tinggi. BPH Yayasan dalam pengembangan suatu PTS memainkan peran sebagai ‘facilitator’ dan ‘advisor’ perubahan yang berorientasi pada menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi terwujudnya perubahan organisasi serta menjadi konsultan yang memberikan saran (advise) bagi pengembangan PTS. Sebaliknya Rektor/Ketua/Dekan memainkan peran sebagai ‘leader’ dan ‘negotiator’ perubahan yang berorientasi pada memimpin proses perubahan organisasi dengan mentransformasikan visi organisasi ke dalam tindakan nyata serta menjadi perantara bagi berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan PTS.

2.PERUMUSAN MASALAH
Penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut:

    1.Bagaimana pemahaman BPH Yayasan terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan dibandingkan dengan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas ?
    2.Bagaimana gaya pengaruh transformasional BPH Yayasan dibandingkan dengan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas ?
    3.Bagaimana intoleransi BPH Yayasan terhadap situasi berarti ganda dibandingkan dengan Rektor Universitas-Insitut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas ?
    4.Apakah ada perbedaan pemahaman terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan, gaya pengaruh transformasional, dan intoleransi terhadap situasi berarti ganda pada BPH Yayasan dan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas ?
    5.Bagaimana karakteristik individual dari BPH Yayasan dan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi/Dekan Fakultas memberikan pengaruh terhadap pemahaman terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan ?

3.TINJAUAN PUSTAKA
Dalam memahami perubahan, Managing Change Model (yang tertuang dalam Managing Change Questionnaire atau MCQ) menawarkan perspektif baru yang mengintegrasikan kekuatan dari perspektif teoritikal dan menggabungkan isu-isu penting mencakup evaluasi keseluruhan efektivitas proses perubahan. Gambar berikut adalah kerangka kerja organisasi yang khusus digunakan untuk menjelaskan hubungan antarbidang konseptual yang disebut triangle atau delta symbol-Greek symbol untuk menyampaikan dua ide (Church, et.al., 1996): (1) Setiap dimensi adalah bagian integral dari keseluruhan pengetahuan tentang perubahan dan (2) Setiap dimensi dibangun pada pengetahuan terhadap aspek dasar perubahan sebagai sesuatu yang kritis bagi proses perencanaan, kepemimpinan, pengelolaan, dan evaluasi perubahan.

GAMBAR 1
MODEL PENGELOLAAN PERUBAHAN
(Burke and Spencer, 1990)1.Aspek-Aspek Fundamental Perubahan
Untuk suatu usaha perubahan yang berhasil, tindakan, dan peristiwa perlu didasari pada pemahaman tentang bagaimana individu merespon perubahan, sama baiknya dengan pemahaman tentang bagaimana transisi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh proses organisasi.
a.Respon Individu terhadap Perubahan
Dimensi ini mengacu pada perbedaan antara perubahan yang diterima dan yang ditolak kuat oleh orang-orang. Item-item dalam dimensi ini juga menunjukkan perbedaan antara mengelola perubahan dan mengelola ketidakacuhan atau apati.
b.Sifat Umum perubahan
Dimensi ini menggambarkan isu-isu perubahan dengan pola yang jelas, pasti melambangkan semua usaha perubahan, dan isu aspek-aspek perubahan “revolusi versus evolusi” – ketika perubahan menuntut langkah yang pasti dan dramatis atau berupa “lompatan” daripada langkah yang moderat dan inkremental.

2.Proses Perubahan
Apabila dinamika dasar perubahan telah dimengerti, proses implementasi usaha perubahan mempunyai kesempatan lebih baik untuk berhasil. Item-item proses perubahan mewakili daya dorong utama pada instrumen ini.

    a.Perencanaan Perubahan
    Perencanaan perubahan mencakup aktivitas-aktivitas proses perubahan yang terjadi atau seharusnya terjadi sebelum implementasi. Item-item dalam dimensi ini menekankan pada prasyarat dari perubahan, sama pentingnya dengan keterlibatan dalam proses perubahan.
    b.Pengelolaan Aspek Perubahan Orang
    Dimensi ini menyediakan prinsip dan petunjuk bahwa kesesuaian kriteria dianggap bermanfaat dalam area memimpin dan mengelola orang. Umumnya mereka mengacu pada isu komunikasi : apa (what), berapa banyak (how much), dan bagaimana (how) berkomunikasi selama perubahan.
    c.Pengelolaan Aspek Perubahan Organisasi
    Dimensi ini memusatkan diri pada aspek pengelolaan perubahan organisasi : sistem penghargaan, struktur organisasi, halangan yang ada untuk mencapai keadaan akhir, dan penggunaan simbol institusional untuk memfasilitasi proses perubahan.
    d. Evaluasi Perubahan

Item-item dalam dimensi ini menggambarkan pentingnya mempertahankan momentum perubahan dan energi positif terarah menuju sasaran perubahan, memonitor perkembangan, dan menyediakan umpan balik bagi anggota tentang banyaknya perubahan yang dicapai, tidak menjadi masalah apabila perubahan itu begitu kecil.

Untuk menggali potensi yang dimiliki seseorang sebagai agen perubahan dipergunakan instrumen Change Agent Questionnaire (CAQ). Semakin tinggi potensi sebagai agen perubahan yang dimiliki seseorang diharapkan akan semakin tinggi kemampuan orang tersebut melakukan perubahan organisasi secara efektif. CAQ diadaptasi terutama dari Burke’s Leadership Report dan skala intoleransi ambiguitas versi Budner. CAQ ini menyediakan subskor yang merefleksikan elemen model kepemimpinan transformasional-transaksional yaitu (a) menentukan arahan (determining direction),(b)mempengaruhi pengikut (influencing followers),(c) menetapkan tujuan (establishing purpose),(d) memberikan inspirasi pengikut (inspiring followers), dan (e) membuat sesuatu terjadi (making things happen) (Church, et.al., 1996).

Intoleransi ambiguitas merupakan “kecenderungan untuk mempersepsikan (atau menginterpretasikan) situasi-situasi ambigu (mendua) sebagai sumber-sumber ancaman” yang dilawankan dengan toleransi ambiguitas yang berarti “kecenderungan untuk mempersepsikan situasi-situasi ambigu (mendua) sebagai sesuatu yang diinginkan”. Pribadi dengan intoleransi ambiguitas yang tinggi gagal menjadi fleksibel dalam perubahan, perantara, dan komunikasi antara aspek-aspek berbeda dan berkonflik dari suatu obyek atau situasi.(Chen dan Hooijberg, 2000).

4. METODE PENELITIAN

    4.1. Obyek penelitian adalah BPH Yayasan dan Rektor Universitas-Institut/Ketua Sekolah Tinggi / Dekan Fakultas.
    4.2. Lokasi penelitian adalah Perguruan Tinggi Swasta di Kopertis Wilayah V DIY yang berbentuk Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang menyelenggarakan program studi Strata 1.
    4.3. Populasi dan sampel
    Populasi penelitian yaitu pelaku-pelaku institusi pendidikan tinggi PTS atau pejabat-pejabat struktural di 35 PTS berbentuk Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi di Kopertis Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan sampel penelitian adalah pelaku-pelaku institusi pendidikan tinggi PTS yang berkedudukan sebagai BPH Yayasan dan Rektor/Ketua /Dekan di Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi itu.
    4.4. Data yang Dipergunakan
    Data primer yang diperoleh melalui kuesioner sebagai alat pengumpulan data utama. Selain itu dilengkapi data sekunder berupa peraturan dalam pendidikan tinggi dan referensi hasil penelitian manajemen perubahan.
    4.5. Metode Pengambilan Sampel
    Metode pengambilan sampel menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan pengambilan sampel keputusan (judgement sampling).
    4.6. Teknik Analisis Data
    Teknik analisis data mencakup (1) pendekatan statistik deskriptif, (2) pendekatan statistik inferensi yang mencakup 2 metode:(a) untuk mengeksplorasi perbedaan agen perubahan eksternal dan internal melalui perbandingan skor MCQ dan CAQ dengan t test dan F test, dan (b) untuk memahami variasi data menurut demografis, khususnya variabel kedudukan agen perubahan dengan multivariate analysis of variance (MANOVA), dan (3) pendekatan statistik regresi untuk mendeteksi pengaruh demografis terhadap pemahaman pada aspek-aspek pengelolaan perubahan.

5.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian validitas MCQ dan CAQ menunjukkan adanya 3 item pertanyaan MCQ yang gugur, namun kuesioner MCQ dapat dipergunakan tanpa hambatan berarti. Pengujian reliabilitas menghasilkan alpha cronbach untuk MCQ 0,6170 dan untuk CAQ 0,7031. Skor tidak begitu berbeda dengan pengujian reliabilitas MCQ dan CAQ pada penelitian Church, et al (1996) yang menghasilkan alpha cronbach untuk MCQ 0,72 dan untuk CAQ 0,70.

Tingkat pengembalian (response rate) kuesioner keseluruhan mencapai 29,2%, relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan response rate penelitian Church, et al (1996) yang mencapai 23,8%.

5.1. Profil Responden Penelitian
Responden penelitian sebagian besar berjenis kelamin pria (90,1%), berumur 41-50 tahun (43,7%), berpendidikan terakhir S2 (60,6%), bergolongan akademik III/c (26,8%), telah bekerja dalam dunia pendidikan tinggi 11-20 tahun (49,3%), mempunyai jabatan sebagai Dekan Fakultas (49,3%), berkedudukan sebagai agen perubahan internal (69,0%), menjadi anggota tetap organisasi di PTS (64,8%), dan telah menjabat 1-5 tahun (43,7%). Pelaku kunci PTS ternyata masih didominasi kaum pria dan mayoritas berusia cukup mapan untuk ukuran masyarakat Indonesia. Kemapanan akademik tercermin pada mayoritas berpendidikan formal S2, golongan akademik III/c, dan lama bekerja dalam pendidikan tinggi (11-20 tahun).

5.2. Pemahaman terhadap Aspek-Aspek Pengelolaan Perubahan
Secara umum pemahaman agen perubahan eksternal terhadap dimensi-dimensi pengelolaan perubahan (MCQ) lebih baik daripada agen perubahan internal, sebagaimana tampak pada hampir semua perolehan rata-rata (mean) skor MCQ yang lebih tinggi (tabel 1), kecuali pada dimensi 1 “individual response to change” yang menunjukkan agen perubahan internal mempunyai perolehan rata-rata (mean) lebih tinggi daripada agen perubahan eksternal, sekalipun selisih yang terjadi sangat kecil/tipis.


TABEL 1
PERBANDINGAN MCQ
AGEN PERUBAHAN EKSTERNAL VERSUS INTERNAL
DIMENSI-DIMENSI   MEAN A.P.E. MEAN A.P.I. UJI F(prob)UJI t(prob.)
Individual response to ch.56,060 57,823 1,414(0,238) 0,251(0,802)
General nature of ch.   84,090 68,367 5,667(0,026)-2,256(0,028)
Planning change     78,787 71,088 1,399(0,241)-1,481(0,143)
Managing people           70,000 68,163 0,307(0,581)-0,334(0,740)
Managing organization   76,136 66,326 0,115(0,736)-1,727(0,089)
Evaluating           86,363 81,632 2,348(0,130)-0,689(0,493)
Total skor           74,380 68,460 0,014(0,906)-1,629(0,108)
Sumber : Data Diolah (2000)

5.3. Gaya Pengaruh Transformasional
Secara umum gaya pengaruh transformasional lebih disukai agen perubahan internal daripada agen perubahan eksternal, sebagaimana terlihat dalam 3 dari 5 perolehan rata-rata (mean) skor CAQ yang lebih tinggi (tabel 2). Hal itu terjadi karena agen perubahan internal yang memainkan peran sebagai ‘leader’ perubahan lebih berorientasi pada memimpin proses perubahan organisasi dengan mentransformasikan visi organisasi ke dalam tindakan nyata melalui keterlibatannya secara langsung dalam penyelenggaran PTS.



TABEL 2
PERBANDINGAN GAYA PENGARUH TRANSFORMASIONAL (CAQ)
AGEN PERUBAHAN EKSTERNAL VERSUS INTERNAL
DIMENSI-DIMENSI MEAN A.P.E. MEAN A.P.I. UJI F(prob.)UJI t(prob.)
Determining direction 33,9394 48,5714 0,024(0,878) 2,193(0,032)
Influencing followers 63,9394 63,2653 1,969(0,165)-0,150(0,881)
Establishing purpose 30,3030 47,1655 1,008(0,319) 2,164(0,034)
Inspiring followers 70,2020 69,3878 1,706(0,196)-0,120(0,904)
Making things happen   -13,6364 29,2517 0,139(0,710) 4,132(0,00)
Total skor         42,4242 53,7415 0,151(0,698) 2,348(0,022)
Sumber : Data Diolah (2000)

5.4. Intoleransi terhadap Situasi Berarti Ganda
Secara umum intoleransi agen perubahan eksternal terhadap situasi berarti ganda – ambiguitas lebih tinggi daripada agen perubahan internal, sebagaimana terlihat dalam perolehan rata-rata (mean) skor intoleransi terhadap situasi berarti ganda – ambiguitas yang lebih tinggi (tabel 3).Hal itu terjadi karena agen perubahan internal yang memainkan peran ‘negotiator’ perubahan dengan menjadi perantara bagi berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan PTS haruslah mempunyai toleransi yang tinggi terhadap situasi berarti ganda.

 
TABEL 3
PERBANDINGAN  INTOLERANSI TERHADAP SITUASI BERARTI GANDA 
- AMBIGUITAS (CAQ)AGEN PERUBAHAN EKSTERNAL VERSUS INTERNAL
          MEAN A.P.E. MEAN A.P.I. UJI F(prob.) UJI t(prob.)
Total skor 58,5498    54,8267    0,233(0,631)-2,184(0,032)
Sumber : Data Diolah (2000)

5.5. Perbedaan Pemahaman terhadap Aspek-Aspek Pengelolaan Perubahan, Gaya Pengaruh Transformasional, dan Intoleransi terhadap Situasi Berarti Ganda
Hasil MANOVA menunjukkan Pillai’s Trace bernilai probabilitas 0,001;Wilks’ Lambda 0,001; Hotelling’s Trace 0,001; dan Roy’s Largest Root 0,001, berarti nilai probabilitas keempat alat statistik tersebut < 0,05, sehingga rata-rata vektor dua agen perubahan dari skor rata-rata adalah tidak identik. Pengujian ini menunjukkan ada perbedaan untuk semua variabel terikat pada kedua agen perubahan atau kedudukan agen perubahan berdampak pada variabel-variabel terikat TMCQ, TTRANFM, dan TAMBIG.

Hasil MANOVA menunjukkan univariate F-Test untuk TMCQ bernilai probabilitas 0,108; TTRANFM 0,022; dan TAMBIG 0,032, berarti nilai probabilitas univariate F-Test untuk TTRANFM dan TAMBIG tersebut < 0,05, sehingga ada perbedaan pada variabel terikat TTRANFM dan TAMBIG dari agen perubahan eksternal dan internal. Sebaliknya nilai probabilitas univariate F-Test untuk TMCQ > 0,05, sehingga tidak ada perbedaan pada variabel terikat MCQ dari agen perubahan eksternal dan internal. Jadi kedudukan agen perubahan berdampak perbedaan pada variabel gaya pengaruh transformasional (TTRANFM) dan variabel intoleransi terhadap situasi berarti ganda (TAMBIG), namun tidak berdampak perbedaan pada variabel pemahaman pada aspek-aspek pengelolaan perubahan (TMCQ).

5.6. Pengaruh Karakteristik Individual pada Pemahaman terhadap Aspek-Aspek Pengelolaan Perubahan Pengujian dilakukan dengan regresi linier berganda dengan memasukkan karakteristik demografis dan variabel TTRANFM dan TAMBIG. Oleh karena beberapa variabel karakteristik individual merupakan variabel kategori atau nominal yang bersifat kualitatif dengan lebih dari satu kriteria, maka dibentuklah variabel dummy untuk pengolahan data selanjutnya. Hasil pengolahan data regresi linier berganda adalah sebagai berikut :


TABEL 4
HASIL REGRESI LINIER BERGANDA
             Koefisien     Uji t Sign.
Konstanta        2,337    0,210 0,836
Pendidikan (X11) dv   -1,548   -0,355 0,725
Pendidikan (X12) dv   -1,077   -0,231 0,819
Pendidikan (X13) dv    2,190    0,411 0,685
Lama kerja  (X2)      -0,180   -1,021 0,317
Umur  (X3)        0,290    1,570 0,129
Golongan (X41) dv      2,631    0,838 0,410
Golongan (X42) dv      1,703    0,648 0,523
Golongan (X43) dv      0,388    0,141 0,889
Golongan (X44) dv     -0,316   -0,108 0,915
Golongan (X45) dv     -0,358   -0,144 0,886
Golongan (X46) dv     -0,762   -0,218 0,829
Golongan (X47) dv      0,762    0,235 0,816
Golongan (X48) dv      0,0068    0,018 0,986
Golongan (X49) dv     -0,4131   -1,018 0,318
Jenis kelamin (X5) dv  2,473    1,260 0,219
Anggota  (X61) dv     -0,668   -0,303 0,764
Anggota (X62) dv      -1,732   -0,817 0,422
Jabatan (X71) dv      -0,986   -0,359 0,723
Jabatan (X72) dv      -1,214   -0,571 0,573
Kedudukan A.P. (X8)   -0,220   -0,101 0,920
Lama menjabat (X9)     0,0583    0,391 0,699
Keahlian (X101) dv    -0,213   -0,049 0,962
Keahlian (X103) dv     2,177    0,704 0,488
Keahlian (X104) dv     2,542    0,837 0,411
Keahlian (X105) dv     3,782    1,668 0,108
Keahlian (X106) dv    -0,514   -0,277 0,784
Keahlian (X107) dv    -4,949   -1,321 0,198
Keahlian (X108) dv     2,698    1,066 0,296
Keahlian (X109) dv     2,250    0,564 0,578
Keahlian (X1010) dv   -2,092   -1,147 0,262
Keahlian (X1011) dv    0,698    0,268 0,791
Keahlian (X1012) dv   -3,382   -0,983 0,335
Keahlian (X1013) dv    3,018    1,140 0,265
Keahlian (X1014) dv    1,054    0,593 0,558
Keahlian (X1015) dv   -3,423   -0,706 0,487
Keahlian (X1016) dv    5,669   -1,102 0,281
Keahlian (X1017) dv    0,774    0,192 0,849
Keahlian (X1018) dv   -1,041   -0,275 0,786
Keahlian (X1019) dv   -8,577   -1,566 0,130
Keahlian (X1020) dv   -0,118   -0,026 0,979
Keahlian (X1021) dv    4,654    1,285 0,210
Keahlian (X1022) dv   -0,316   -0,061 0,952
Keahlian (X1023) dv   -6,649   -1,793 0,85
Transformasional (Y2)  0,174    3,379 0,0020
Ambiguitas (Y3)       -0,0542     -0,763 0,453
Sumber : Data Diolah (2000)

Hasil pengujian t test menunjukkan satu-satunya variabel yang signifikan mempengaruhi TMCQ atau Y1 adalah variabel TRANFM atau Y2 karena nilai signifikansinya < 0,05, sedangkan variabel-variabel bebas lain (karakteristik individual) mempunyai nilai signifikansi > 0,05 atau tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap TMCQ.

Pengujian regresi linier berganda telah menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara variabel gaya pengaruh transformasional (TTRANFM) terhadap variabel pemahaman seseorang terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan (TMCQ). Semakin transformasional gaya pengaruh seorang agen perubahan (yaitu gaya konsultasi transformasional bagi agen perubahan eksternal dan gaya kepemimpinan bagi agen perubahan internal), maka semakin baik pemahaman seorang agen perubahan terhadap aspek-aspek pengelolaan perubahan, yang ditunjukkan dari perolehan skor MCQ dari agen perubahan tersebut.

5.7. Suatu Paradoks transformasional
Seperti dalam penelitian Church, et al (1996) yang menggali paradoks transformasional, penelitian ini pun berusaha menemukan paradoks transformasional tersebut. Temuan digali dari item 22 dalam MCQ tentang kesetujuan pada pernyataan “Perubahan organisasi yang efektif menuntut langkah nyata/dramatis daripada langkah moderat yang bertahap/inkremental” dibandingkan dengan skor pengaruh transformasional (TTRANFM) CAQ.

Penelitian ini menunjukkan 45 orang (63,3%) menyatakan setuju terhadap perubahan yang nyata/ dramatis (transformasional) daripada perubahan yang bertahap/inkremental (transaksional). Fenomena ini memperkuat dugaan bahwa perubahan transformasional lebih disukai agen perubahan pendidikan tinggi.

Bukti lain menunjukkan 26 orang(53,1%) agen perubahan internal mendukung perubahan transformasional, dan 19 orang (86,4%) agen perubahan eksternal mendukung perubahan transformasional. Kesetujuan pada pernyataan itu lebih merepresentasikan “orientasi transformasional menuju perubahan” dan kurang merepresentasikan “orientasi transaksional menuju perubahan”. Fenomena ini menunjukkan lebih banyak agen perubahan eksternal yang mendukung orientasi perubahan transformasional menuju manajemen perubahan daripada agen perubahan internal. Sebagian besar BPH Yayasan lebih menyukai perubahan transformasional yang bersifat nyata/dramatis daripada perubahan yang bersifat moderat/bertahap/ inkremental. Sebaliknya separuh dari Rektor/Ketua /Dekan menyukai perubahan transformasional, sedang separuh lain menyukai perubahan transaksional.

Penggalian lebih lanjut adanya paradoks transformasional ditemukan dalam skor gaya pengaruh transformasional dari agen perubahan eksternal dan internal. Hasil penelitian menunjukkan agen perubahan internal lebih menyukai gaya pengaruh transformasional daripada agen perubahan eksternal (53,74%: 42,42%).

Mengapa lebih banyak agen perubahan eksternal (86,4%) yang mendukung premis “orientasi transformasional menuju manajemen perubahan” dibandingkan agen perubahan internal (53,1%), sedangkan menurut hasil pengukuran gaya pengaruh transformasional CAQ menunjukkan agen perubahan eksternal kurang transformasional dibandingkan agen perubahan internal ? Dugaan atas paradoks transformasional itu adalah BPH Yayasan mendukung orientasi transformasional menuju manajemen perubahan, namun dalam aplikasi organisasi PTS BPH Yayasan kurang mampu menganut dan menerapkan gaya pengaruh “konsultasi” transformasional karena kedudukan BPH Yayasan di luar sistem organisasi penyelenggaraan PTS tetap dianggap sebagai “orang luar” yang tidak mempunyai pengetahuan orang, budaya, dan norma yang berlaku dalam PTS yang dibinanya. Selain itu keterbatasan tenaga, pikiran, dan waktu yang dimiliki seorang BPH Yayasan, yang dapat mengurangi intensitas perhatian BPH Yayasan terhadap PTS yang dibinanya akan memperkuat kemungkinan terjadinya paradoks transformasional ini. Agen perubahan eksternal bisa jadi tidak memegang peranan yang memungkinkan terjadinya revolusi organisasi, sekalipun agen perubahan eksternal dapat mempengaruhi dan mencetuskan revolusi.

Mengapa lebih sedikit agen perubahan internal (53,1%) yang mendukung premis “orientasi transformasional menuju manajemen perubahan” dibandingkan agen perubahan eksternal (86,4%), sedangkan menurut hasil pengukuran gaya pengaruh transformasional CAQ menunjukkan agen perubahan internal lebih transformasional dibanding agen perubahan eksternal ? Dugaan atas paradoks transformasional itu adalah Rektor/Ketua/Dekan kurang mendukung orientasi transformasional menuju manajemen perubahan, sekalipun dalam penerapannya pada organisasi PTS Rektor/Ketua /Dekan lebih mampu menganut dan menerapkan gaya pengaruh “kepemimpinan” transformasionalnya karena kedudukan Rektor/Ketua/Dekan di dalam sistem penyelenggaraan PTS memungkinkan untuk mempunyai pengetahuan orang, budaya, dan norma PTS yang dipimpinnya. Selain itu kontinuitas keberadaan Rektor/Ketua/Dekan dalam PTS mengakibatkan terjadi relasi baik dengan anggota organisasi PTS yang turut memberikan kontribusi bagi terjadinya paradoks transformasional ini. Agen perubahan internal bisa jadi kurang mendukung perubahan revolusioner, namun karena kedudukannya sebagai pimpinan puncak organisasi memberikan kemungkinan besar untuk mencetuskan perubahan, bahkan perubahan revolusioner sekalipun.

6. PENUTUP
Keberhasilan seorang agen perubahan terletak pada potensi tingginya gaya pengaruh transformasional dan tingginya toleransi terhadap situasi berarti ganda yang didukung dengan pemahaman pada aspek pengelolaan perubahan. Namun demikian situasi dan kondisi organisasi turut mendukung terwujudnya peranan agen perubahan dalam menciptakan PTS yang high-flex organization.

7. DAFTAR PUSTAKA
Burke,W.W. (1990) Managing Change Questionnaire, Pelham. New York. W.Warner Burke Associates.

Burke,W.W. and Spencer, J.L. (1990) Managing Change:Participant Guide, Interpretation and Industry Comparisons. Pelham. New York. W.Warner Burke Associates, pp. 1-59.

Chen, C.C. and Hooijberg, R. (2000) Ambiguity Intolerance and Valuing Diversity in The Workplace. http://blue.temple.edu/~eastern/ chen.html. Church, A.H., et al (1996) Managing Organizational Change:What You Don’t Know Might Hurt You, Career Development International.Vol.1.No.2.pp.25-30.

Church,A.H.,et al (1996) OD Practitioners As Facilitators Of Change : An Analysis Of Survey Results, Group & Organization Management. Vol.21. No. 1. pp. 22-66.

Susanto, A.B. (1998) Tinjauan Pendidikan Tinggi Dalam Memasuki Milenium Ketiga : Renungan Beberapa Aspek Pembaharuan Dunia Pendidikan. Universitas Atma Jaya Yogyakarta Indonesia Memasuki Milenium Ke-3. Yogyakarta. Andi Offset. pp. 77-88.

 

 

sumber: http://artikel.us/

PostHeaderIcon Seasoned Equity Offerings: Benarkah Underperformance Pasca Penawaran

 

SEASONED EQUITY OFFERINGS: Benarkah Underperformance Setelah Penawaran?
HS. Sulistyanto
Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang (sulis@unika.ac.id)
Pratana P. Midiastuti
Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu

ABSTRACT
Penurunan kinerja (underperformance) memang cenderung mengikuti public offerings, termasuk seasoned equity offerings. Penurunan kinerja ini terjadi karena adanya upaya manajemen untuk memanipulasi kinerja yang dilaporkannya sebelum dan pada saat penawaran untuk memberikan kesan positif agar saham yang ditawarkannya direspon secara positif oleh pasar. Penelitian ini mencoba membuktikan dugaan tersebut. Dengan menggunakan data perusahaan yang melakukan SEO di BEJ selama kurun waktu 1994-1997 penelitian ini berhasil membuktikan hipotesis tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga tahun sebelum penawaran, kinerja perusahaan, baik kinerja keuangan maupun kinerja saham, mengalami peningkatan. Sebaliknya terjadi penurunan kinerja selama tiga tahun setelah penawaran.

Latar Belakang
Seasoned equity offerings merupakan penawaran saham tambahan yang dilakukan perusahaan yang listed di pasar modal, diluar saham yang terlebih dahulu beredar di masyarakat melalui initial public offerings (IPO) (Megginson, 1997). Penawaran ini dilakukan karena perusahaan tersebut membutuhkan tambahan dana untuk membiayai kegiatan usaha atau membayar hutangnya yang jatuh tempo. Penjualan seasoned securities ini dapat dilakukan dengan, pertama, menjual hak (right) kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru dengan harga tertentu-disebut dengan rights issues-atau , kedua, dijual kepada setiap investor yang ingin membeli sekuritas baru tersebut melalui second offerings, third offerings dan seterusnya. Namun perusahaan dengan kepemilikan yang terkonsentrasi akan cenderung menggunakan right issue untuk menambah ekuitas barunya (Eckbo dan Masulis, 1992).

Walaupun investor mempunyai informasi yang cukup mengenai perusahaan yang melakukan SEO tersebut, asimetri informasi (information asimmetry) tetap terjadi dalam penawaran ini (Guo dan Mech, 2000). Kondisi inilah yang memotivasi manajemen untuk bersikap oportunistik untuk melakukan manipulasi terhadap kinerjanya, baik sebelum dan pada saat penawaran (Rangan, 1998; Teoh et al., 1998). Manipulasi yang dikenal dengan istilah earnings management ini akan mengakibatkan penurunan kinerja (underperformance) setelah penawaran (McLaughlin, 1996; Loughran dan Ritter, 1997; Teoh et al., 1998; Rangan, 1999). Alderson dan Betker (1997) dan Trail dan Vos (2001) menjelaskan penurunan kinerja perusahaan yang melakukan SEO dengan menggunakan kerangka windows of opportunity dan fenomena agency theory. Dalam windows of opportunity, penurunan kinerja bisa ini terjadi karena adanya upaya perusahaan untuk mengambil keuntungan jangka pendek pada saat pasar menilai perusahaan terlalu tinggi (overvalu e),yaitu dengan mengeluarkan saham tambahanya. Padahal dalam jangka panjang penilaian yang terlalu tinggi tersebut tidak bisa dipertahankan karena pasar melakukan koreksi terhadap”kesalahannya”. Sementara dalam agency theory-yaitu teori yang berfokus pada masalah yang muncul antara principal-agent dalam pemisahan kepemilikan dan kontrol terhadap perusahaan (Morris, 1987)-manajemen perusahaan berusaha untuk memberikan sinyal positif kepada pasar tentang perusahaan yang dikelolanya. Sinyal positif ini diwujudkan dalam kinerja yang dilaporkannya. Namun sinyal positif ini dalam jangka panjang tidak bisa dipertahankan oleh manajemen, yang tercermin dari penurunan kinerja yang dilaporkan oleh perusahaan tersebut (Teoh et al., 1998). McLaughin et al. (1996) yang menggunakan berbagai ukuran rasio cash flow juga membuktikan bahwa kinerja cash flow perusahaan akan mengalami penurunan kinerja sekitar 20% selama tiga tahun setelah penawaran. Sementara Loughran dan Ritter (1997) menemukan perbedaan antara kinerja operasi lima tahun sebelum dan sesudah penawaran,yaitu adanya penurunan kinerja dalam jangka panjang. Anehnya, walau average return perusahaan yang melakukan SEO hanya 7% per tahun sedangkan perusahaan yang tidak melakukan penawaran rata-rata 15% per tahun, SEO tetap mendapat respon positif dari investor. Apalagi jika investor menangkap bahwa dana yang diperoleh dari hasil seasoned issue tersebut akan diinvestasikan pada kesempatan investasi yang menguntungkan.

Sementara Denis dan Sarin (1999) mencatat bahwa rendahnya kinerja pasca SEO diakibatkan karena pengukuran earnings yang dilakukan secara “tidak tepat” oleh manajemen. Kondisi ini mempengaruhi interpretasi investor terhadap kinerja perusahaan dan mengakibatkan investor mempunyai harapan profitabilitas masa depan perusahaan yang keliru. Atau dengan kata lain investor yang naif akan overoptimism dalam meramalkan earnings masa depan dan mengalami kekecewaan terhadap realisasinya pada periode pasca penawaran. Penurunan kinerja yang terjadi sebagai dampak pengukuran tersebut akan terjadi selama lima tahun setelah SEO. Shivakumar (2000) juga menunjukkan bahwa manajemen telah melakukan overstate terhadap earnings sebelum melakukan pengumuman SEO. Lebih lanjut penelitian tersebut menunjukkan bahwa investor sebenarnya sudah menduga adanya earnings management dan secara rasional berusaha melepaskan pengaruhnya pada saat pengumuman SEO. Jadi investor memiliki penilaian yang rendah terha dap earnings sebelum SEO dan secara rasional memberikan nilai yang rendah untuk perusahaan.

Di Indonesia penelitian mengenai penurunan kinerja yang terjadi setelah SEO dilakukan oleh Harto (2001) dan Candy (2002). Harto (2001) menyimpulkan bahwa perusahaan yang melakukan right issue mengalami penurunan kinerja operasi, keuangan, dan saham selama tiga tahun setelah penawaran. Sedangkan Candy (2002) dalam penelitian mengenai SEO menyimpulkan bahwa perusahaan akan mengalami penurunan kinerja operasi, sedangkan kinerja keuangan justru mengalami kenaikan. Penelitian tersebut memberi argumen bahwa kenaikan kinerja keuangan tersebut kemungkinan besar karena (1) dana yang diperoleh dari SEO digunakan untuk membayar hutang perusahaan yang jatuh tempo dan (2) naiknya nilai hutang jangka panjang karena kemungkinan hutang yang dimiliki perusahaan merupakan hutang dalam kurs asing yang tidak dilindungi dengan sistem hedging, sehingga melemahnya rupiah berakibat meningkatkan nilai hutang.

Perumusan Masalah
Berbeda dengan penelitian Harto (2001) yang hanya menggunakan sampel perusahaan yang melakukan right issue dan Candy (2002) yang tidak menguji kinerja saham perusahaan yang melakukan SEO, maka penelitian ini memperluas sampel yang digunakan dan melakukan pengujian terhadap kinerja saham. Penurunan kinerja pasca penawaran ini sebenarnya merupakan hal logis terjadi mengingat sikap oportunistik manajemen-karena kesuperiorannya dalam menguasai informasi dibandingkan pasar-dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Manipulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan informasi kinerja yang “lebih baik” agar pasar merespon penawaran saham tambahannya. Namun upaya manipulasi ini biasanya tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang, sehingga perusahaan akan mengalami penurunan kinerja. Maka berdasarkan kondisi dan fakta tersebut, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja dalam jangka panjang ?

Tujuan Penelitian
Penurunan kinerja (underperformance) yang mengikuti penawaran saham, baik melalui IPO maupun SEO, sebenarnya merupakan hal yang logis mengingat menjelang dan saat penawaran baisanya perusahaan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Manipulasi ini dilakukan dengan tujuan agar pasar memberikan respon yang positif terhadap penawaran tersebut. Manipulasi ini dilakukan dengan mengakui biaya sekarang (current cost) sebagai biaya masa depan (future cost) dan pendapatan masa depan sebagai pendapatan sekarang. Namun manipulasi ini sangat sulit untuk terus dilakukan pada periode setelah penawaran dan mengakibatkan penurunan kinerja pasca penawaran. Maka dari uraian tersebut penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti empiris bahwa dalam jangka panjang perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja.

Tinjauan Literatur dan Perumusan Hipotesis
Penurunan kinerja (underperformance) yang terjadi pasca penawaran saham ke publik (public offerings)-IPO maupun SEO-seolah telah menjadi pola baku (Denis, 1994; Loughran dan Ritter, 1997; Nassiripour et al., 1998; Rangan, 1998; Teoh, et al., 1998a; Espenlaub, 1999; Shivakumar, 2000). Bukti empiris menyimpulkan bahwa adanya reaksi pasar yang positif terhadap pengeluaran ekuitas baru. Pillote (1992) melaporkan bahwa pengaruh kesempatan bertumbuh akan menjadi faktor yang menimbulkan reaksi pasar yang positif. Cooney dan Kalay (1993) dengan menggunakan model yang didasarkan pada pecking order hypothesis melaporkan adanya reaksi pasar yang positif terhadap pengumuman SEO oleh perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi. Respon pasar yang berbeda tersebut tentu dipengaruh oleh alasan perusahaan dalam melakukan SEO, misalnya untuk memperkuat struktur modal, melakukan investasi yang membutuhkan dana besar, dan membiayai hutang yang telah jatuh tempo. Walau dengan alasan penawaran yang berbeda, SEO yang dilakukan perusahaan selalu akan diikuti dengan penurunan kinerja dalam jangka panjang.

Banyak penelitian yang menghubungkan penurunan kinerja tersebut dengan konsep windows of opportunity dan teori agensi (Traill dan Vos, 2001; Alderson dan Betker, 1997). Secara konseptual, dalam windows of opportunity manajemen berusaha memanfaatkan kesempatan pada saat mengetahui pasar telah menilai perusahaan secara overvalue. Sementara dalam teori agensi (agency theory), manajemen memanfaatkan asimetri informasi karena kesuperiorannya dalam menguasai informasi dibandingkan pasar. Sehingga dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa turunnya kinerja perusahaan tersebut berkaitan dengan sikap oportunistik manajemen untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, meski dalam jangka panjang manajemen akan kehilangan kendali atas keunggulannya, yang terefleksi dalam penurunan kinerja.

Manipulasi terhadap kinerja menjelang SEO merupakan penjelasan yang logis mengapa perusahaan tidak mampu mempertahankan kinerjanya. Manajemen melakukan manipulasi dengan menggunakan discretionary accrual, yaitu kebijakan akuntansi yang memberikan keleluasan pada manajemen untuk menentukan jumlah transaksi akrual secara fleksibel. Manipulasi yang dikenal dengan istilah earnings management ini merupakan refleksi sikap oportunistik manajemen untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Sehingga peningkatan laba (income increasing) menjelang penawaran, memuncak pada saat penawaran dan menurun setelah penawaran mengindikasikan sikap oportunistik manajemen untuk menaikkan harga saham yang ditawarkannya (Teoh et al., 1998a, McLaughlin et al., 1996, Alderson dan Betker, 1997, Dubois dan Jeanneret, 2000, Kim dan Shin, 2001).

McLaughlin (1996) dalam penelitiannya menggunakan berbagai ukuran rasio cash flow untuk mengetahui apakah kinerja jangka panjang setelah SEO mengalami penurunan. Hasilnya mengindikasikan bahwa kinerja cash flow mengalami penurunan sekitar 20% selama tiga tahun setelah penawaran. Sementara Alderson dan Betker (1997) mengevaluasi kinerja operasi dan harga saham jangka panjang perusahaan yang melakukan SEO dengan menggunakan rasio market-to-book asset sebagai proksi nilai pertumbuhan oportunistik (value of growth opportunisties) dan menemukan bahwa kinerja operasi pasca penawaran dalam jangka panjang adalah jelek. Dalam penelitiannya Rangan (1998) melaporkan bahwa harga saham overvalue untuk sementara waktu yaitu pada saat penawaran dan selanjutnya akan “mengecewakan” yang ditunjukkan dengan penurunan harga saham pasca penawaran. Traill dan Vos (2001) melaporkan bahwa perusahaan yang melakukan SEO akan underperformance selama lima tahun setelah issue.

Penelitian Laughran dan Ritter (1997) menggunakan enam rasio keuangan untuk melihat kinerja keuangan sebelum dan lima tahun setelah SEO. Hasilnya menunjukkan rasio keuangan-khususnya rasio profit margin dan ROA-mengalami penurunan selama empat tahun setelah penawaran tersebut. Hasil tersebut mengindikasikan adanya upaya manajemen melakukan manipulasi sebelum melakukan penawaran agar kinerja perusahaan pada saat penawaran kelihatan bagus. Penelitian yang dilakukan oleh Teoh et al. (1998a) melaporkan bahwa discreationary accruals digunakan oleh perusahaan yang melakukan SEO pada periode sebelum issue, mencapai puncaknya pada saat issue, dan menurun pada periode-periode pasca issue. Selanjutnya penelitian tersebut membuktikan bahwa ada hubungan negatif antara discreationary current accruals sebelum issue dengan laba dan return saham pasca issue. Hubungan negatif dengan return saham ini terjadi setelah mengendalikan ukuran perusahaan, rasio book-to-market, capital expenditures pasca issue.

Sejalan dengan penurunan kinerja operasi, maka penurunan kinerja saham juga akan terjadi sebagai akibat dilakukannya manipulasi pada saat penawaran tersebut (Ritter, 1991; Dechow 1996;, Bowman dan Navissi, 1998). Kondisi tersebut terjadi karena harga saham berkorelasi dengan kinerja keuangan, sehingga penurunan kinerja keuangan akan membuat pasar melakukan koreksi harga saham yang overvalue tersebut. Chambers (1999) mencatat bahwa manipulasi yang dilakukan manajemen menyebabkan misallocation modal akan yang diinvestasikan. Pengalokasian yang tidak tepat ini mempunyai implikasi terhadap harga saham yang akan dinilai secara tidak tepat (mispricing). Hal tersebut terjadi karena pasar tidak mampu mendeteksi keberadaan dan besarnya laba yang dimanipulasi. Atau dengan kata lain pasar telah gagal untuk memahami implikasi penggunaan akrual tersebut (Beneish, 2001). Tetapi dalam jangka kegagalan investor dalam menilai perusahaan akan dikoreksi sehingga akan mengakibatkan turunnnya ha rga saham perusahaan bersangkutan. Maka dari uraian tersebut hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

H1: Perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja keuangan setelah penawaran.

H2: Perusahaan yang melakukan SEO akan mengalami penurunan kinerja saham setelah penawaran.

Metodologi Penelitian1. Sumber Data dan Sampel Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diambil dari laporan keuangan (annual report) dan harga saham penutupan bulanan perusahaan yang melakukan SEO periode tahun 1994-1997 di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Data dibutuhkan selama tiga tahun sebelum (1991-1993) dan tiga tahun sesudah SEO (1998-2000). Perusahaan yang masuk sebagai sampel dipilih dari perusahaan non-lembaga keuangan untuk mengantisipasi kemungkinan pengaruh regulasi tertentu yang dapat mempengaruhi variabel penelitian.

Tabel 1: Sampel Penelitian
Identifikasi Perusahaan Jumlah Perusahaan yang SEO tahun 1994-1997 43 Perusahaan lembaga keuangan (11) Data laporan keuangan tidak lengkap (4) Jumlah Sampel 28

Sumber: data diolah.
2. Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian Kinerja dalam penelitian ini diproksikan sebagai kinerja keuangan dan kinerja saham. Kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan dan akan diukur dengan menggunakan data fundamental perusahaan, yaitu data yang berasal dari laporan keuangan perusahaan. Sedangkan kinerja saham akan mengindikasikan kinerja pasar perusahaan dan akan diukur dengan menggunakan nilai pasar saham perusahaan yang beredar di pasar modal. § Kinerja keuangan, ada beberapa ukuran kinerja keuangan yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban keuangan jangka pendeknya pada saat jatuh tempo. Likuiditas dapat diukur dengan rasio lancar (current ratio-CR), yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar.
2. Leverage, yang menunjukkan bagian modal non ekuitas yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Dengan kata lain, leverage menunjukkan proporsi aktiva perusahaan yang didanai oleh pihak selain pemegang saham (shareholder). Ukuran leverage yang akan digunakan adalah rasio hutang terhadap ekuitas/modal (debt to equity ratio-DER).
3. Profitabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Ukuran profitabilitas yang akan digunakan adalah net profit margin (NPM), yaitu net income dibagi dengan pendapatan (revenue). Rasio ini mengindikasikan berapa banyak net income yang dihasilkan dari setiap rupiah pendapatan (revenue). Ukuran lainnya adalah rasio tingkat kembalian atas aktiva (return on assets-ROA), yaitu net income dibagi dengan total aktiva (rata-rata). Rasio ini mengukur efisiensi penggunaan ekuitas pemegang saham biasa.
4. Perputaran (turnover), yang mengindikasikan efisiensi dalam penggunaan aktiva perusahaan. Ukuran perputaran yang akan digunaan adalah rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio-TAT), yaitu penjualan dibagi dengan total aktiva (rata-rata). § Kinerja saham, yaitu kinerja yang saham dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain melalui tingkat pengembalian (return). Return dapat dihitung dengan rumus: Pt – Pt-1/Pt-1 , dimana Pt adalah harga saham pada periode t dan Pt-1 adalah harga saham periode sebelum t.

3. Metode Analisis Data
§ Analisis Deskriptif. Analisis deskripsi digunakan untuk mengetahui nilai-nilai statistik masing-masing variabel penelitian yang dipakai. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan pola yang terjadi selama periode pengamatan. Pola yang biasa terjadi dalam peristiwa public offerings adalah terjadinya peningkatan yang cenderung tajam menjelang penawaran, memuncak pada saat penawaran, dan akan menurun setelah penawaran tersebut. Penurunan kinerja dalam public offerings secara teoritis akan terjadi selama tiga-lima tahun setelah penawaran (Teoh et al., 1998a, McLaughlin et al., 1996, Alderson dan Betker, 1997, Dubois dan Jeanneret, 2000, Kim dan Shin, 2001). § Uji Statistik. Uji statistik digunakan untuk menentukan keputusan menerima atau menolak hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Pengujian statistik yang dilakukan adalah dengan menggunakan: uji beda sampel berpasangan (Paired-sample t-test). Uji beda terhadap kinerja sebelum dan sesudah SEO untuk mengetahui apakah kinerja sebelum penawaran lebih tinggi dibandingkan kinerja sesudah penawaran dan membuktikan terjadinya penurunan kinerja pasca penawaran saham tambahan tersebut.

Hasil dan Analisis
Seperti dalam penelitian Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), dan Kim dan Shin (2001) yang menggunakan periode waktu tiga tahun sebelum dan sesudah SEO, maka penelitian ini menggunakan periode yang sama. Sehingga penghitungan nilai statistik (mean dan median) variabel kinerja-yaitu current ratio (CR), debt equity ratio (DER), return on assets (ROA), total assets turnover ratio (TAT), dan net profit margin ratio (NPM)-dilakukan selama tujuh tahun, yaitu dimulai dari tiga tahun sebelum SEO (t-3 atau dari tahun 1991 sampai tahun 1993) sampai dengan tiga tahun setelah SEO (t+3 atau dari tahun 1998 sampai tahun 2000). Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel 2.


Tabel 2: 
Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan 
Periode t-3 t-2 t-1 t t+1 t+2 t+3
CR
Mean 1.3714 1.4245 1.5576 2.3826 1.7558 1.6866 1.4630
Median 1.2625 1.3089 1.3469 1.5626 1.4731 1.3473 1.1200
ROA
Mean 2.0904 2.1384 2.2024 2.3836 1.6225 0.9406 -1.1969
Median 0.8650 0.9986 2.0250 2.9850 2.8250 2.1200 0.0850
TAT
Mean 198.23 199.92 214.19 243.35 187.93 186.01 164.94
Median 152.29 180.76 180.68 188.36 153.16 144.33 134.88
NPM
Mean 0.7914 0.1190 0.1311 0.3646 0.3036 0.3034 -31.114
Median 0.1350 0.1500 0.1530 0.1950 0.1750 0.1700 0.8000
DER
Mean 1.4539 1.3992 1.5987 2.1451 2.5981 3.9755 2.0921
Median 1.0831 1.2235 1.4350 1.4150 1.5350 1.6388 1.5850
Sumber: data diolah.

Tabel 2 menunjukkan nilai mean dan median CR, ROA, TAT, dan NPM memperlihatkan pola meningkat menjelang SEO, memuncak pada pada saat SEO, dan mengalami penurunan setelah penawaran. Hasil ini konsisten dengan penelitian Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), dan Kim dan Shin (2001) yang menyimpulkan terjadinya penurunan kinerja (underperformace) pasca penawaran. Pola meningkatnya kinerja operasi dan memuncak pada saat SEO mengindikasikan adanya upaya manajemen untuk memberikan sinyal positif kepada pasar. Tingginya kinerja keuangan ini diharapkan akan direspon secara positif oleh pasar dan meningkatkan nilai saham yang ditawarkan. Sedangkan penurunan kinerja pasca penawaranan mengindikasikan ketidakmampuan manajemen untuk melanjutkan manipulasi kinerjanya.

Berbeda dengan nilai mean variabel keuangan lainnya, nilai DER menunjukkan pola yang berbeda. Variabel DER menunjukkan pola yang cenderung selalu meningkat, bahkan setelah penawaran. Hasil ini konsisten dengan penelitan Candy (2002) yang mencatat bahwa semakin meningkatnya nilai variabel DER kemungkinan dipengaruhi oleh melemahnya nilai rupiah karena pengaruh krisis ekonomi di Indonesia, yang mengakibatkan hutang jangka panjang dalam mata uang asing yang tidak dilindungi dengan sistem hedging akan berlipat nilainya jika dihitung dalam rupiah.


Tabel 3: 
Statistik Deskriptif Kinerja Saham 

Periode t-3 t-2 t-1 t t+1 t+2 t+3
RETURN
Mean -0.0120 -0.0110 -0.0056 0.0012 -0.0062 -0.0360 -0.0390
Median -0.0030 -0.0062 0.0025 0.0108 -0.0023 -0.0210 -0.0230
Sumber: data diolah.

Tabel 3 merupakan statistik deskriptif kinerja saham selama periode pengamatan. Konsisten dengan penelitian Loughran dan Ritter (1997) yang menyimpulkan terjadinya peningkatan kinerja saham sebelum penawaran dan penurunan pasca penawaran, maka penelitian ini juga menunjukkan pola yang sama. Kondisi ini sesuai dengan konsep windows of opportunity, yaitu konsep yang membahas upaya manajemen yang memanfaatkan kesalahan pasar menilai perusahaan secara overvalue dengan melakukan penawaran saham tambahan. Walaupun akhirnya tetap akan terjadi penurunan kinerja saham, karena pasar melakukan koreksi terhadap kesalahannya. Dari tabel terlihat bahwa kinerja saham dari t-3 (-0.0120) meningkat dan memuncak pada periode t (0.0012). Kondisi ini mengindikasikan tawaran yang dilakukan perusahaan direspon secara positif oleh pasar. Sedangkan penurunan kinerja saham memang terjadi pasca penawaran,yaitu sejak periode t+1 (-0.0062) sampai dengan t+3 (-0,0390).

Pengujian selanjutnya akan menguji apakah nilai variabel kinerja sebelum penawaran memang benar-benar lebih besar dibandingkan setelah penawaran. Hasilnya ditunjukkan dalam Tabel 4.


Tabel 4: 
Uji Beda Kinerja Sebelum dan Sesudah SEO

CR ROA TAT NPM DER AR
p-value 0.018 0.019 0.011 0.014 0.164 0.018
t-value 0.791 -1.374 -1.234 -1.574 2.472 2.129
Sumber: data diolah.

Tabel 4 menunjukkan hasil uji beda variabel kinerja keuangan dan saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Dari pengujian terlihat bahwa dari lima variabel kinerja, terbukti hanya empat variabel yang mempunyai nilai sebelum SEO lebih besar dibandingkan nilai sesudah SEO, yaitu variabel CR, ROA, TAT, dan NPM. Nilai p-value untuk CR (0.018), ROA (0.019), TAT (0.011), NPM (0.014) yang lebih kecil dari 0,05 membuktikan bahwa kinerja keuangan sebelum SEO lebih besar dibandingkan kinerja sesudah SEO. Hal ini membuktikan telah terjadinya penurunan kinerja pasca penawaran.

Nilai p-value untuk CR sebesar 0.018 mengindikasikan bahwa rata-rata CR sebelum penawaran lebih besar dibandingkan rata CR setelah penawaran. Kondisi ini menunjukkan terjadinya penurunan yang signifikan kinerja variabel CR pasca penawaran. Sejalan dengan dugaan awal yang menyatakan adanya penurunan kinerja pasca-SEO, maka variabel ROA memperkuat dugaan tersebut. Nilai p-value 0.019 mengindikasikan bahwa nilai mean ROA sebelum penawaran lebih besar dibandingkan rata-ratanya setelah penawaran, yang artinya telah terjadi penurunan rata-rata ROA yang cukup signifikan. Nilai p-value 0.011 mengindikasikan telah terjadi penurunan nilai TAT pasca penawaran. Demikian juga untuk variabel NPM (net profit margin ratio) yang mempunyai p-value sebesar 0.014 mengindikasikan telah terjadi penurunan nilai rata-rata NPM setelah penawaran dibandingkan kenaikan nilai rata-rata NPM sebelum penawaran. Namun berbeda halnya dengan keempat variabel kinerja di atas, variabel DER (debt equity ratio) ti dak menurun pasca SEO. Nilai p-value sebesar 0,164 (lebih besar dari pada 0,05) berarti nilai DER sesudah SEO lebih besar dibanding sebelum SEO. Walaupun terjadi kenaikan kinerja menjelang dan pada saat penawaran, namun kenaikan kinerja ini terus terjadi setelah SEO tersebut. Hal ini kemungkinan karena hutang perusahaan dalam mata uang asing tidak dilindungi dengan sistem hedging, sehingga menguatnya kurs dollar Amerika akibatnya krisis ekonomi mengakibatkan melonjaknya nilai hutang perusahaan (Candy, 2002).

Nilai p-value sebesar 0.018 (lebih kecil dari pada 0,05) variabel AR (abnormal return) mengindikasikan bahwa dugaan kinerja sebelum penawaran lebih besar daripada kinerja setelah penawaran. Besarnya kenaikan sebelum penawaran daripada penurunan setelah penawaran kemungkinan besar karena upaya manajemen mempengaruhi pasar cenderung berhasil. Walaupun setelah penawaran, ketika pasar menyadari kesalahannya segera melakukan koreksi yang mengakibatkan terjadinya penurunan kinerja saham perusahaan tersebut. Ini konsisten dengan penelitian Lougran dan Ritter (1997).

Kesimpulan
Jurang (gap) informasi yang ada diantara manajemen dan investor di pasar merupakan salah satu motivasi manajer melakukan manipulasi terhadap kinerja dengan menaikkan labanya (income increasing). Sikap oportunistik ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan dimasa depan dan menaikkan harga penawaran. Sikap oportunistik ini dinilai secara ekstrim sebagai sikap curang (fraud) manajemen yang diimplikasikan dalam laporan keungannya pada saat penawaran saham tambahannya tersebut. Keberhasilan dari sikap ini dinilai ketika manajemen berhasil menyesatkan investor dalam menilai saham yang ditawarkan tersebut. Walaupun pada periode pasca-SEO terbukti manajemen tidak mampu lagi melanjutkan sikap curangnya yang tercermin dari penurunan kinerja pasca penawaran.

Penelitian ini menemukan bukti bahwa perusahaan yang melakukan penawaran saham tambahan (seasoned equity offerings) mengalami penurunan pasca penawaran tersebut. Hal ini terbukti dari besarnya nilai mean variabel kinerja keuangan dan saham sebelum SEO dibandingkan setelah SEO. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya manajemen untuk memperbaiki kinerja yang dilaporkan dalam prospektus, dengan harapan penawaran saham tambahannya akan direspon secara positif oleh investor di pasar. Walaupun pada periode pasca penawaran penurunan kinerja (underperformance) akan dialami perusahaan sebagai bukti tidak bisa dilanjutkannya manipulasi tersebut tersebut. Penurunan kinerja ini merupakan cermin dari ketidakmampuan manajemen melanjutkan manipulasi yang dilakukan pada saat SEO. Bukti ini konsisten dengan beberapa penelitian manajemen laba disaat SEO terdahulu, misalnya Teoh et al. (1998), McLaughlin et al., (1996), Alderson dan Betker (1997), Loughran dan Ritter (1997), Rangan (1998), da n Kim dan Shin (2001).

Keterbatasan dan Implikasi
Penelitian ini bertujuan untuk mendukung hipotesis yang menyatakan terjadinya penurunan kinerja pasca panawaran. Dibaliknya ditemukannya bukti yang mendukung hipotesis tersebut ada keterbatasan dan kekurangan masih ada dalam penelitian ini, yaitu: dalam penelitian mengenai public offerings selalu menggunakan jumlah data yang cukup besar, baik untuk jumlah perusahaan sampel maupun waktu pengamatan yang mencakup periode yang panjang, seperti dalam penelitian Ritter (1991), Jain dan Kini (1994), dan Teoh et al. (1997; 1998a). Sedangkan penelitian ini hanya menggunakan 28 perusahaan dari 42 perusahaan yang melakukan SEO dalam kurun waktu 1994-1997. Keterbatasan ini disebabkan karena data keuangan perusahaan-perusahaan tersebut sulit diperoleh dalam periode yang cukup panjang. Sedangkan implikasi dari penelitian ini adalah memberikan bukti bahwa kinerja perusahaan yang tinggi menjelang dan pada saat SEO bukanlah mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, namun hasil manipulasi yang dilakukan manajemen, sehingga investor disarankan tidak hanya mendasarkan diri kepada prospektus penawaran dalam membuat keputusan investasinya.

Daftar Pustaka
Alderson, Michael J., dan Brian L. Betker, “The Long Run Performance of Companies That Withdraw Seasoned Equity Offerings”, Working paper, September 1997.

Allen, David E., dan Victor Soucik, “Performance of Seasoned Equity Offerings in a Risk Adjusted Environment”, Working paper, 2001

Bayless, M., dan Chaplinsky, “Is There a Window of Opportunity for Seasoned Equity Issuance?”, Journal of Finance, 1996.

Buhner, Thomas., dan Christoph Kasere, “External Financing and Economicies of Scale in Investment Banking-The Case of Seasoned Equity Offerings in Germany”, Working paper, June 2000.

Candy, 2002, “Analisis Kinerja Perusahaan yang Melakukan Seasoned Equity Offerings: Studi Kasus di Bursa Efek Jakarta”, Working paper.

Cooney, J., dan A. Kalay, “Positive Information from Equity Issue Announcements”, Journal of Financial Economics, 1993.

Denis, David J., dan Atulya Sarin,” Is the Market Surprised by Poor Earnings Realization Following Seasoned Equity Offerings”, Working paper, Desember 1999.

Denis, David J., “Investment Opportunies and the Market Reaction to Equity Offerings”, Journal of Financial and Quantitative Analysis, Vol. 29 No.2, 1994.

Dubois, Michel., dan Pierre Jeanneret, “The Long-Run Performance of Seasoned Equity Offerings With Rights”, Working paper, Januari 2000

Eckbo, B.E., dan Masulis, “Adverse Selection and The Rights Offer Paradox”, Journal of Financial Economics, 1992.

Espenlaub, Susanne, “Discussion of The Life Cycle of Initial Public Offering Firms”, Journal of Business Finance & Accounting, 26 (9) & (10), Nov./Des. 1999.

Guo, Lin., dan Timothy S. Mech, “Conditional Event Study, Anticipation, and Asymmetric Information: The Case of Seasoned Equity Issues and Pre-issue Information Releases”, Journal of Empirical Finance, 7, 2000.

Harto, Puji, “Analisis Kinerja Perusahaan yang Melakukan Right Issue di Indonesia”, Simposium Nasional Akuntansi IV, 2001.

Jindra, Jan, “Seasoned Equity Offerings, Overvaluation and Timing”, Working paper, Maret 2000.

Jin, Liauw She, dan Mas’ud Machfoedz, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.1 No.2, Juli 1998.

Jones, “Investments Analysis and Management”, John Wiley & Sons, Inc, 2000.

Kim, Kenneth A., dan Hyun-Han Shin, “The Underpricing of Seasoned Equity Offerings: 1983-1998″, Working paper, Mei 2001.

Lee, Inmoo, “Do Firms Knowingly Sell Overvalued Equity?”, Journal of Finance, 1997.

Loughran, Tim., dan Jay R. Ritter, “The New Issues Puzzle”, The Journal of Finance, Maret 1995.

Loughran, Tim., dan Jay R. Ritter, “The Operating Performance of Firms Conducting Seasoned Equity Offerings”, The Journal of Finance, 1997.

McLaughlin, Assem S. dan Gopala K.V, “The Operating Performance of Seasoned Equity Issuers: Free Cash Flow and Post Issue Performance”, Financial Management, Vol.25, 1996.

Megginson, “Corporate Finance Theory”, Addison-Wesley Educational Publishers Inc,1997.

Morris, “Signalling, Agency Theory and Accounting Policy Choice”, Accounting and Business Research, Vol. 18, 1987.

Nassiripour, S., K.Karim, P. Siegel dan M. Ahmed, “The Effect of Seasoned Equity Offerings on Stock Prices: A Case of Diversification VS Growth Opportunities” , Research in Finance, 1998.

Pillote,E.,”Growth Opportunities and the Stock Price Response to New Financing”, Journal of Business,1992.

Rangan, Srinivasan, “Earnings Management and the Performance of Seasoned Equity Offerings”, Journal of Financial Economics, 50, 1998.

Shivakumar, Lakshmanan, “Do Firm Mislead Investor by Overstating Earnings Before Seasoned Equity Offerings?”, Journal of Accounting and Economics, 2000

Sulistyanto, H.Sri, 2002, “Analisis Manajemen Laba Pada Saat Initial Public Offerings: Indikasi Sikap Oportunistik Manajemen”, Thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

Teoh (a), Siew Hong., Ivo Welch, dan T.J. Wong, “Earnings Management and the Underperformance of Seasoned Equity Offerings”, Journal of Financial Economics, 1998.

Teoh (b), Siew Hong, Ivo Welch, dan T.J. Wong, “Earning Management and The Long Run Market Performance of Initial Public Offering”, Journal of Finance, Vol.LIII, No.6 Desember 1998.

Teoh, Siew Hong, T.J. Wong, Gita R. Rao, “Are Accruals During An Initial Public Offering Opportunististic?”, Working paper, Juli 1997.

Traill, Marcus dan Ed Vos, “Do Seasoned Equity Offerings Really Underperform in the Long Run? Evidence from New Zealand”, Working paper, 2001.

 

 

 

sumber: http://artikel.us/

PostHeaderIcon Memanfaatan Museum Sebagai Sumber Pembelajaran

Memanfaatan Museum Sebagai Sumber Pembelajaran

 

“Apabila suatu bangsa adalah sebuah keluarga yang hidup dengan dan dalam rumah kebudayaannya, maka Museum dapatlah dipahami sebagai album keluarga itu. Di dalam album itulah foto-foto seluruh keluarga tersimpan dan disusun dari setiap masa dan generasi. Foto-foto itu ditatap untuk tidak sekedar menjenguk dan menziarahi sebuah masa lalu, sebab waktu bukan hanya terdiri dari ruang dimensi kemarin, hari ini dan besok pagi. Foto-foto itu adalah waktu yang menjadi tempat untuk menatap dan memaknai seluruhnya, bukan hanya peristiwa, akan tetapi juga pemaknaan di balik peristiwa-peristiwa itu. Pemaknaan tentang seluruh identitas, di dalam dan di luar kota. Foto-foto itu akhirnya bukan lagi dipahami sebagai sebuah benda” (HU Pikiran Rakyat, 22 Februari 2001).

Uraian tersebut menunjukkan, museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan dan memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dan lingkungan, tetapi merupakan suatu lembaga yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa guna memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa, mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional.

Dalam kenyataannya, saat ini masih banyak masyarakat, termasuk kalangan pendidikan, yang memandang Museum hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memelihara benda-benda peninggalan sejarah serta menjadi monumen penghias kota. Akibatnya, banyak masyarakat yang enggan untuk meluangkan waktu berkunjung ke Museum dengan alasan kuno dan tidak prestis, padahal jika semua kalangan masyarakat sudi meluangkan waktu untuk datang untuk menikmati dan mencoba memahami makna yang terkandung dalam setiap benda yang dipamerkan museum, maka akan terjadi suatu transfomasi nilai warisan budaya bangsa dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang.

Bagi dunia pendidikan, keberadaan museum merupakan suatu yang tidak dapat terpisahkan, karena keberadaannya mampu menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam proses pembelajaran terutama berkaitan dengan sejarah perkembangan manusia, budaya dan lingkungannya.

Museum sebagai Sumber Pembelajaran
Sebagai lembaga yang menyimpan, memelihara serta memamerkan hasil karya, cipta dan karsa manusia sepanjang zaman, museum merupakan tempat yang tepat sebagai Sumber Pembelajaran bagi kalangan pendidikan, karena melalui benda yang dipamerkannya pengunjung dapat belajar tentang berbagai hal berkenaan dengan nilai, perhatian serta peri kehidupan manusia.

Kegiatan observasi yang dilakukan oleh siswa di Museum merupakan batu loncatan bagi munculnya suatu gagasan dan ide baru karena pada kegiatan ini siswa dirangsang untuk menggunakan kemampuannya dalam berfikir kritis secara optimal. Kemampuan berfikir siswa tersebut menurut Takai and Connor (1998), meliputi :
a. Comparing and Contrasting (kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan pada objek yang diamati)
b. Identifying and Classifying (kemampuan mengidentifikasi dan mengelompokkan objek yang diamati pada kelompok seharusnya).
c. Describing (kemampuan menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenaan dengan objek yang diamati).
d. Predicting (kemampuan untuk memprakirakan apa yang terjadi berkenaan dengan objek yang diamati).
e. Summarizing (kemampuan membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di Museum dalam sebuah laporan secara singkat dan padat).

Kemampuan berpikir tersebut tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa adanya bimbingan dan pembinaan yang memadai dari gurunya. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kemampuan berfikir kritis siswa melalui kegiatan kunjungan ke Museum, diantaranya :
a. Dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas untuk materi tertentu, guru perlu sering mengajak, menugaskan atau menyarankan siswa berkunjung ke Museum guna membuktikan uraian dalam buku teks dengan melihat bukti nyata yang terdapat di museum. Kegiatan ini idealnya dilakukan dengan melibatkan siswa dalam jumlah yang tidak terlalu besar untuk mempermudah guru dan pemandu museum membimbing siswa saat mengamati koleksi museum.
b. Memberikan pembekalan terlebih dahulu kepada siswa sebelum melakukan kunjungan ke museu, terutama berkaitan dengan materi yang akan diamati. Kegiatan ini dilakukan agar pada diri siswa tumbuh rasa ingin mengetahui dan membuktikan apa yang diinformasikan oleh gurunya atau pemandu museum.
c. Menyediakan alat bantu pendukung pembelajaran bagi siswa, berupa lembar pannduan atau LKS yang materinya disusun sesingkat dan sepadat mungkin serta mampu menumbuhkan daya kritis siswa terhadap objek yang diamati.
d. Selama kunjungan guru dan atau pemandu museum berada dekat siswa untuk memberikan bimbingan dan melakukan diskusi kecil dengan siswa berkenaan dengan objek yang diamati.
e. Setelah kegiatan kunjungan, siswa diminta untuk membuat laporan berupa kesimpulan yang diperoleh dari hasil kegiatan kunjungan ke museum, kemudian hasil tersebut didiskusikan dalam kelas.
f. Pada bagian akhir kegiatan, guru perlu melakukan evaluasi terhadap program kegiatan kunjungan tersebut sebagai tolok ukur keberhasilan kegiatan kunjungan tersebut.

Selain upaya yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan kunjungan ke Museum, pihak pengelola (kurator) museum juga perlu melakukan berbagai upaya agar pengunjung, terutama kalangan pendidikan dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam kegiatan kunjungannya. Upaya dapat dilakukan oleh pengelola museum dalam menjadikan museumnya sebagai sumber bagi kegiatan pembelajaran, diantaranya :
a. Menyediakan panel informasi singkat berkenaan dengan pembagian ruang dan jenis koleksi yang dipamerkannya di pintu masuk museum, sehingga pengunjung dapat memperoleh gambaran isi museum secara lengkap begitu masuk pintu museum, sehingga walau pengunjung hanya masuk ke salah satu ruangan, dia tidak akan kehilangan “cerita” yang disajikan museum.
b. Menyediakan panel-panel informasi yang disajikan secara lengkap dan menarik sebagai pelengkap benda koleksi pameran dan diorama.
c. Menyediakan berbagai fasilitas penunjang kegiatan pendidikan, seperti leaflet, brosur, buku panduan, film, mikro film, slide dan lembar kerja siswa (LKS), sehingga pengunjung dengan mudah mempelajari objek yang dipamerkan museum.
d. Khusus berkenaan dengan LKS, perlu dirancang LKS museum yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing tingkatan usia siswa serta mampu membangkitkan daya kritis siswa sesuai dengan tingkatannya.
e. Museum perlu menyelenggarakan berbagai kegiatan permainan museum yang menarik dan mampu meningkatkan pemahaman siswa akan objek yang dipamerkan.

Perlunya kerjasama antara sekolah dengan Pengelola Museum
Diatas sudah diuraikan bahwa pemanfaatan museum secara optimal oleh siswa dapat dicapai jika sebelum melakukan kegiatan kunjungan ke museum diberikan pengenalan terlebih dahulu berkenaan dengan materi atau objek yang dipamerkan. Melalui kegiatan eksplorasi pra kunjungan diharapkan siswa akan mampu menangkap berbagai informasi penting berkenaan dengan objek yang dipamerkan sesuai dengan apa diharapkan. Agar guru mampu melakukan bimbingan dalam kegiatan kunjungan ke museum, maka guru perlu menjalin kerjasama dengan pengelola museum guna memperoleh informasi lengkap tentang museum dan koleksi yang dipamerkannya.

Sebaliknya pihak pengelola (kurator) museum dalam menyusun berbagai program pendidikan di museum serta sarana penunjangnya, perlu melakukan kerjasama dengan kalangan pendidikan agar program pendidikan di museum dan sarana penunjangnya, seperti LKS, dapat sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan kurikulum sekolah. Selain itu, antara museum satu dengan yang lainnya yang berada dalam satu kota perlu melakukan kerjasama dalam membuat buku informasi museum bersama yang nantinya buku tersebut dapat dibagikan kepada kalangan pendidikan, terutama sekolah, sehingga ketika akan melakukan kegiatan kunjungan dengan mudah guru menentukan museum mana yang akan dikunjungi sesuai dengan tuntutan kurikulum pada saat itu.

Akhirnya melalui pemanfaatan Museum sebagai sumber pembelajaran diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita dan keberadaan museum tidak hanya menjadi penghias atau monumen kota, semoga….

Sumber : http://re-searchengines.com

PostHeaderIcon Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan Anti Korupsi

Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Ketika tatanan hukum dan sistem pendidikan terpisah dari rangkaiannya. Pendidikan anti korupsi diperlukan sebagai bagian integral untuk meluruskan demokrasi yang mengalami disfungsi. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia terbitan Media Center diartikan sebagai hal atau keadaan tidak berfungsinya sesuatu secara wajar. Cita-cita luhur universal demokrasi adalah memberikan ruang kebebasan bagi setiap manusia untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya itu sendiri.

Melihat kekacauan -dalam pengertian berjalannya sistem negara- maka menurut beberapa penelitian, Indonesia memang rentan mengalami gangguan atau distorsi. Dalam sebuah masyarakat majemuk, demokrasi dan nasionalisme memang sering menjadi sebuah dilema. Tuntutan-tuntutan demokratissai yang idealnya memperkuat nasionalisme, realitasnya juga memunculkan konflik-koflik etnis yang bisa membahayakan demokratisasi itu sendiri, yang bukan tidak mungkin lalu atas nama negara kebangsaan malah melahirkan pemerintahan otoriter baik sipil atau militer (Larry Diamond & Marc F.Platner, terjemahan “nasionalisme, konflik etnis dan demokrasi, ITB Press,1998)

Seorang Mohamad Hatta lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit sosial yang membudaya ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Merujuk A. Mukti Fadjar sebagaimana penelitian Donald L. Horowitz mengenai demokrasi pada masyarakat majemukmenunjukkan bahwa demokrasi dan demokratisasi dapat mengalami kegagalan karena berbagai alasan seperti perlawanan dari kaum sipil atau militer yang terserobot , tiadanya kondisi sosial atau budaya kondusif, lembaga yang dirancang secara tidak tepat, dan pada banyak negara di Afrika, Asia, dan Eropa Timur adalah konflik etnis.

Kemudian tidak terlalu salah kiranya jika pada perayaan kemerdekaan di bulan Agustus ini kita instropeksi diri. Ternyata lebih tepat jika bangsa ini masih disebut sebagai bangsa parasit. Masyarakat masih terlalu mudah diadu domba hingga melahirkan kerusuhan. Sikap kita masih sering mencurigai keberadaan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan, kita tidak ambil peduli ketika gelombang ribuan pengungsi yang harus meninggalkan tempat hidupnya karena konflik.

Dorongan untuk menegakkan demokrasi dan civil society ini harus dimulai dari gerakan yang sungguh-sungguh untuk memerangi korupsi maupun suap. Lembaga pemerintah anti korupsi tidak bisa berjalan dengan keterbatasannya yang disebabkan dibawah subordinasi kekukasaan. Negara ini harus benar-benar mebentuk tim yang independen untuk memberantas korupsi. Bahkan kalau perlu memeriksa seorang presidenpun bukannya sebatas pada Gubernur ataupun pembantu presiden saja. Termasuk kepala kepolisian.

Kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain yang secara serius melakukan hal ini. Contohnya badan anti korupsi yang terkemuka dinegara-negara berkembang yaitu ICAC (independent Commision Againts Corruption ) di Hongkong. Dalam buku “Membasmi korupsi ” karya Robert Klitgaard (2001:130) dapat ditelusuri mengapa dan bagaimana ICAC didirikan, dan bagaimana ICAC mencapai sukses dalam membersihkan korupsi dijajaran kepolisian Hongkong. Sebagaimana di Indonesia, banyak orang Hongkong yakin bahwa korupsi itu berurat -akar dalam kebudayaan Cina di Hongkong. Ada yang menarik kesimpulan fatalistik, dengan mengatakan bahwa usaha-usaha untuk mengurangi krupsi itu akan sia-sia. Kaum pesimistik dapat dengan mudah mengutip berbagai catatan kegagalan kampanye anti korupsi di masalalu.

Namun pada tahun 1971 pemerintah Hongkong meloloskan sebuah undang-undang pencegahan suap yang brilian. Undang-undang itu memperluas kategori-kategori pelanggaran. Bagi mereka yang dicurigai, kekayaan pribadinya melampaui pendapatan, atau yang menikmati tingkat hidup diluar apa yang dimungkinkan oleh penghasilan, beban pembuktiannya beralih: mereka harus bisa membuktikan diri tidak bersalah. “Dalam setiap tuntutan terhadap seorang karena pelanggaran menurut undang-undang ini, beban memberikan pembelaan yang sah atau dalih yang dapat diterima terletak dipihak tertuduh.”(2001:139) Pendek kata ini merupakan pembalikkan dari asas praduga tak bersalah yang lazim digunakan seperti di Indonesia. Mampukah kita menata hukum kita demikian? Tentunya kita masih harus mengkorelasikan antara pendidikan anti suap dengan sistem hukum nasional.

Pelaksanaan pemilu 2004 yang dilangsungkan secara aman dan relatif lebih baik daripada pemilu masa lampau belum memberikan arti apa-apa jika tidak diikuti dengan kemauan mengkoreksi tatanan hukum nasional. Menarik sekali mencermati apa yang dikatakan oleh Satjito Rahardjo (1990-1), bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum (NBHI) adalah suatu bangunan yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif”. Pertanyaannya adalah beranikah para anggota DPR beserta DPD yang terpilih merumuskan tatanan baru yang lebih kondusif?

Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Demokrasi dinegara ini masih teramat rapuh. Ketamakan politisi sipil telah mengalihkan fungsi legilatif dari yang sepatutnya. Pembahasan undang-undang dan sebagainya tidak mencerminkan adanya perubahan mendasar. Sehingga kasus-kasus kudeta terselubung terhadap demokrasi mudah saja terjadi. Coba lihat kasus impor gula. Ternyata dibalik regulasi atau kebijakan yang seakan-akan memihak pada rakyat, penguasa negara sendiri yang melakukan kejahatan. Belum lagi kasus pemanfaatan aparatur hukum sebagai bidak-bidak catur politik untuk melanggengkan kekuasaan. Aparat negara negara yang berselingkuh dengan kepentingan politik tentunya karena mendapat imbal suap.

Sumber : http://re-searchengines.com

PostHeaderIcon Pendidikan Jarak Jauh

PENDIDIKAN JARAK JAUH
Pendidikan Jarak Jauh secara tersurat sudah termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional”. Rumusan tentang Pendidikan Jarak Jauh terlihat pada BAB VI Jalur, jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian Kesepuluh Pendidikan Jarak Jauh pada Pasal 31 berbunyi : (1) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; (2) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tata muka atau regular; (3) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta system penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standard nasional pendidikan; (4) Ketentuan mengenai penyelenggarakan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Ini menunjukan kepada kita bahwa pendidikan jarak jauh merupakan program pemerintah yang perlu terus didukung. Pemerintah merasakan bahwa kondisi pendidikan negeri kita perlu terus dibenahi, dan tentunya diperlukan strategi yang tepat, terencana dan simultan. Selama ini belum tersentuh secara optimal, karena banyak hal yang juga perlu dipertimbangkan dan dilakukan pemerintah didalam kerangka peningkatan kualitas sector pendidikan.

Pendidikan jarak jauh pada kondisi awal sudah dijalankan pemerintah melalui berbagai upaya, baik melalui Belajar Jarak Jauh yang dikembangkan oleh Universitas Terbuka, mapun Pendidikan Jarak Jauh yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Departemen Pendidikan Nasional, melalui program pembelajaran multimedia, dengan program SLTP dan SMU Terbuka, Pendidikan dan Latihan Siaran Radio Pendidikan.

Berkenaan dengan itu, yang pasti sasaran dari program pendidikan jarak jauh tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang belum tersentuh mengecap pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar, menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pergunungan, dan banyak pula yang dipisahkan antar pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program pendidikan jarak jauh mutlak terbuka lebar. Perlu dicatat bahwa pemerintah telah melakukan dengan berbagai terobosan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Upaya keras yang dilakukan adalah berkaiatan dengan lokalisasi daerah terpencil, pedalaman yang sangat terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi, komunikasi, maupun informasi. Hal ini sesegera mungkin untuk diantisipasi, sehingga jurang ketertinggalan dengan masyarakat perkotaan tidak terlalu dalam, dan segera untuk diantisipasi.

Semangat otonomi daerah memberikan angin segar terhadap pelaksanaan program pendidikan jarak jauh. Apalagi bila kita telusuri, masih banyak para guru yang mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, akan tetapi karena keterbatasan dana, ditambah lagi ketidakmungkinannya untuk meninggalkan sekolah, maka cita-cita untuk melanjutkan belum tercapai.

Akan tetapi dengan melalui program pendidikan jarak jauh melalui pola pembelajaran multi media yang digalakan oleh Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Pendidikan Nasional, merupakan angin segar bagi para guru-guru yang berpendidikan SPG/SGO untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Diploma Dua melalui Program PGSD. Demikian pula bagi para guru-guru yang baru direkrut melalui program guru bantu yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat maupun guru kontrak yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, pada umumnya banyak lulusan SMU/SMK/MA tentunya dari segi kualitas perlu terus ditingkatkan, apalagi yang menyangkut kemampuan didaktik, metodik dan paedogogik masih perlu banyak belajar, karena selama menjalani pendidikan di sekolah menengah tidak pernah mendapatkan materi tersebut. Mereka-mereka ini perlu diberi kesempatan untuk mengikuti program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) selama dua tahun.

Katanya Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Dinas Pendidikan Nasional bekerjasama dengan LPTK, dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota tahun depan akan melaksanakan program pendidikan jarak jauh, yang akan diujicoba untuk lima propinsi se Indonesia, Yakni Propinsi Riau, Sumatera Barat, Papua, Gorontalo, dan Ujung Pandang.

Pola yang diterapkan melalui program pembelajaran multimedia, dengan melibatkan LPTK yang ada, Dinas Kabupaten/Kota serta Pustekkom Propinsi. Para guru tidak perlu lagi meninggalkan tugas mengajar, dan tentunya proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif seperti biasa. Para tutorial dan teknisi dari LPTK yang akan datang ke daerah untuk melakukan proses pembelajaran.

Telah terjadi distribusi hak dan wewenang antara, LPTK, Pustekkom, Dinas Pendidikan, dalam proses pelaksanaan, dan masing-masing tetap menyatukait, dan ada beberapa program yang dilaksanakan secara bersama-sama. Hal ini telah diatur sesuai dengan kesepakatan antara LPTK, Dinas Pendidikan, Pustekkom beberapa waktu yang lalu.

Untuk itu Dinas Pendidikan Propinsi Riau bersama dengan LPTK (FKIP UNRI) akan melaksanakan sosialisasi tentang program ini, telah melakukan rapat koodinasi tanggal 15 November 2003 bersama seluruh kepala Dinas Pendidikan Propinsi Riau. Pada kesempatan itu Pemerintah Pusat melalui Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi memberikan beberapa informasi pada pertemuan itu. Sehingga kesepakatan untuk melaksanakan program peningkatan Sumber Daya Manusia dalam hal ini “Guru” dapat terwujud sesuai dengan apa yang direncanakan. Semoga.

Sumber : http://re-searchengines.com/isjoni4.html